Search This Blog

Showing posts with label marriage life. Show all posts
Showing posts with label marriage life. Show all posts

Wednesday, May 18, 2022

Pikiran SUAMI



PEKA. Satu kata sakral yang amat jarang dimiliki oleh para lelaki. Pasalnya kata itu mengandung lebih banyak penggunaan rasa saat direalisasikan. Sedangkan laki-laki cenderung banyak menggunakan logika ketimbang rasa. Walau hal ini tidak bisa digeneralisasi untuk semua laki-laki, tapi bisa dibilang sebagian besar demikian. Karena itu, jangan pernah memberi mereka kode karena bisa jadi tidak tersampaikan dengan baik. Jalan satu-satunya adalah komunikasi. Yap, hanya itu yang bisa dilakukan agar pesan tersampaikan. Bahkan masih ada peluang jika komunikasi harus dilakukan berulang sampai yakin bahwa pesannya diterima dan dilakukan.

Sederhanya komunikasi wajib disadari oleh keduanya, suami dan istri. Tidak bisa hanya satu pihak saja. Karena komunikasi dibangun dua arah, sesama manusia yang sama-sama punya mata untuk menatap lawan bicara, punya telinga untuk saling mendengarkan, ada hati dan pikiran untuk mengelola komunikasi sebelum akhirnya direspon melalui lisan masing-masing. Itulah komunikasi, terlihat mudah, tapi sayangnya kita tidak bisa bermudah-mudah dengan komunikasi.

Pada praktiknya, kita dituntut untuk bertanggung jawab atas komunikasi agar tetap sehat dan tidak membuat hubungan semakin jauh. Tak perlu berekspekstasi akan bertumbuh bersama dengan jalinan komunikasi yang baik. Selama komunikasi diupayakan untuk bisa berjalan sebagaimana mestinya, pertumbuhan individu sebagai pasangan akan terealisasi seiring berjalannya waktu. Kuncinya lagi-lagi soal komitmen dan konsistensi.

Komunikasi membutuhkan kebesaran hati bagi keduanya. Jikalau tidak demikian, maka tidak akan tercipta komunikasi yang harmonis. Walau komunikasi antara suami dengan istri bisa saja berbeda, keselarasan dapat tercipta saat sama-sama memiliki hati seluas samudera, sama-sama sabar dan saling pengertian untuk mencerna rangkaian kalimat yang telah disampaikan. Tidak memaksa maupun dipaksakan.

Berbicaralah. Komunikasikanlah. Karena sebagian besar kesalahpahaman yang besar berawal dari hubungan dengan komunikasi yang minim. Sampaikan apapun yang menjadi kritik dan saran. Ungkapkan apa saja yang dibutuhkan dan tergolong darurat. Berikan alasan yang mudah dipahami bersama, karena dengan begitu kita akan terus bisa beriringan menjalani kehidupan rumah tangga.

Paling utama adalah, komunikasi dengan Sang Pencipta. Karena bagaimanapun juga, pasangan kita, suami kita adalah milik-Nya. Maka mintalah dibukakan hati dan pikirannya agar mampu menerima dengan lapang setiap berkomunikasi dengan kita. 

Demikianlah Allah menjadikan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (Q.S. Al Mudatsir 31).


Monday, May 16, 2022

Jadi OrangTua itu Rumit!

Sepuluh tahun dalam pernikahan, 9 tahun menjadi orang tua. Ternyata banyak sekali yang belum tertata dengan baik. Hal mendasar seperti visi dan misi pun agaknya perlu ditulis bukan hanya sekedar dibicarakan, sepakat, lalu tuntas. Karena seringkali terlewat begitu saja atau bahkan lupa bahwa keluarga ini berjalan tentu ada tujuan serta target yang perlu dicapai.
Sekarang kita sedang bebenah.


Baik, kita mulai dari Kebersihan dengan cara membiasakan sebuah rutinitas di luar keseharian. Apa saja?

1. Mandi setelah bepergian
2. Merapikan bekas makanan
3. Mengembalikan barang (apapun) pada tempat semula

Ketiga hal yang butuh waktu tidak sebentar agar bisa menjadi kesadaran "terbiasa".

Berikutnya adalah Keuangan, anak-anak sebetulnya sudah lama memiliki anggaran "jajan" masing-masing. Praktiknya masih banyak PR, walau kini lebih rapi karena mereka bertanggung jawab langsung dengan nominal secara 'fisik' yang diberikan. Termasuk dana THR yang mereka dapatkan di tahun ini, murni mereka yang kelola. Apapun yang terjadi, mereka harus terima. Orang tua hanya memberi saran, tapi hak guna dana tersebut ada di diri mereka sambil terus didampingi berkaitan dengan makna penggunaan uang berdasarkan kebutuhan vs keinginan agar lebih bermanfaat.

Jikalau menyangkut keseluruhan dana keluarga, tahun ini pun lebih tertata dalam hal anggaran yang ditetapkan, meski masih perlu penyesuaian dibeberapa kebutuhan. Kedepannya seru kali ya kalau bisa audit tahunan ala keluarga sebagai bentuk tanggung jawab setiap dana yang dikeluarkan, tapi dengan catatan keuangan yang tentunya sudah lebih pro termasuk aset (ciealah gaya) yang dimiliki.

Lantas, apa saja yang termasuk anggaran belanja bulanan?

1. Tabungan
2. SPP sekolah
3. Sewa Rumah (kebetulan kami masih jadi kontraktor, hehe.. Mohon do'a semoga Allah SWT mudahkan kiranya kami memiliki rumah, aamiin)
4. Listrik
5. Laundry (ex.sabun cuci, dkk)
6. Dapur (ex.bahan makan mentah / gofood, dkk)
7. Service Kendaraan
8. Internet & Pulsa
9. Lingkungan (sampah & keamanan)
10. Jajan Anak (dibagi sesuai jumlah anak)
11. Transportasi Online (ex.jasa antar jemput)
12. Holiday (ex.makan di luar)

Kebutuhan tiap rumah tangga berbeda, jadi masih bisa disesuaikan atau diperinci lagi tiap poinnya. Karena bagi saya, poin-poin tersebut hanya secara garis besar. Mungkin akan ada pertanyaan, "kok gak ada zakat / infaq?" InsyaAllah tanpa ada anggaran, keduanya selalu ada di setiap moment apapun. Silahkan ditambahkan jika dirasa perlu tercantum dalam anggaran.

Selanjutnya tentang apa? JADWAL. Yap, rutinitas itu perlu dibangun. Saya akui, masih sering timbul kekacauan, apalagi sekarang punya bayi, hal sepele soal 'tidur' masih belum terbentuk dengan benar. Apa saja yang berkaitan dengan Jadwal?

1. Shalat
2. Mengaji (baca Al-qur'an/iqra & murajaah)
3. Jadwal Anak (PR sekolah)
4. Jadwal Bunda (Masak,dkk)
5. Tidur dan Bangun Tidur (termasuk mandi dan bersih-bersih sebelum tidur)
6. Screen Time (nonton dan game)
7. Baca Buku dan Main
8. Makan (pagi, siang, sore)
9. QTime (olahraga, ngobrol,dkk)

Jadwal itu terlihat sangat sederhana, bahkan dilakukan setiap hari, tapi kami masih mengubah-ubah jadwal sampai saat ini belum menemukan formula yang tepat. Apalagi ditambah kejadiran bayi yang jadwalnya masih amburadul. Huffft. PR besar sesungguhnya ya tentang Jadwal. Fighting!?

Begitulah sekilas tentang "Kerumitan" menjadi orangtua. Belum seberapa, masih banyak lagi hal-hal lain yang menyertainya, seperti pola asuh, cara berkomunikasi dengan pasangan dan anak serta mengelola diri. Ya, diri sendiri pun perlu dikelola agar emosi yang kerap naik turun bahkan bablas ini bisa punya rem pakem sehingga tidak berlarut atau mengulang dengan kesalahan yang sama.

Semangattt menjadi orang tua yang senantiasa mau belajar dan membuka diri. 🖤

Monday, March 21, 2022

BAHAGIA versi ISTRI

Istri yang bahagia adalah istri yang penuh limpahan kasih sayang & perhatian dari suaminya. baik berupa materil maupun non materil. Begitu juga sebaliknya, istri yang sedih, muram, dan mudah marah adalah istri yang banyak menerima keacuhan dan ketidakpedulian dari suaminya.

Seorang perempuan yang sudah menjadi istri, akan dengan tidak disadari menggantungkan rasa bahagia pada suaminya. meskipun ia bisa bahagia dengan banyak hal selain itu, tapi tetap kebahagian yang hakiki terletak pada diri sang suami. bahkan mood booster yang paling ampuh bisa datang dari suami.


Mungkin berbeda dengan suami yang bisa bahagia bukan karena istrinya. suami bisa bahagia bila berolahraga, menyalurkan hobi, bermain game online, atau touring keliling kota.

walaupun tidak menyetarakan semua suami bisa bahagia dengan berbagai macam kegiatan, tapi mungkin ada juga suami yang bisa lebih bahagia karena istrinya. Jadi, bahagiakanlah istrimu maka suami pun akan turut berbahagia. Sebab kebahagiaan istri itu sifatnya menular dan menyebar. Kebahagiaan istri mampu membuat suasana rumah menjadi teduh, mampu memberi energi positif bagi anak-anak, dan lingkungan sekitar.


Saturday, March 5, 2022

behind Story Lahiran Baby Number 3

Malam hari setelah kontrol ke dokter Obgyn sekaligus cek lab persiapan opname besok, akhirnya saya mulai sounding ke anak-anak bahwa besok adalah waktunya bunda melahirkan adek. Kami sudah sepakat mengenai tempat menginap anak-anak sesuai dengan keinginan mereka, yaitu di rumah sepupunya. Malam itu juga entah kenapa anak-anak melow, tapi kelihatan berusaha tegar sembari menguatkan diri dengan berdoa. Ya, mendoakan bunda juga adek bayi semoga sehat, selamat, lancar proses melahirkanny dan segera pulang kembali ke rumah.


Sesaat sebelum kami tidur bersama, anak-anak membuat surat. Khamasa membuat surat untuk Bunda, sedangkan Kaysa untuk adek bayi. Kalau boleh jujur, baca surat-suratnya aja udah makin sedih, tapi cuma bisa sabar dan berdoa semoga ini segera berlalu.



Malam pertama Bunda di rumah sakit berjalan aman, anak-anak merasa nyaman tanpa mengeluh apapun. Drama dimulai keesokan hari, saat sepupunya harus ke Balikpapan karena ada acara, anak-anak ingin ikut. Tapi dengan diberikan pengertian dan penjelasan oleh Ayahnya, akhirnya mereka tidak ikut. Malam berikutnya anak-anak di rumah Eyang. anak-anak sengaja kami beri Handphone untuk saling berkomunikasi. Sekitar pukul 22:00 malam, Khamasa mengirim whatsup, mengatakan bahwa dia kangen, ingin video call. Duh bapernya Bunda saat itu, baru baca wa-nya aja mewek. Tapi karena anak-anak mau VC, bunda tahan tangis dan berusaha tegar.


Awal video call, kami bersikap biasa saja, ngobrol saling tanya kegiatan hari ini apa saja yang sudah dilakukan. Lama kelamaan semakin melow, anak-anak mulai nangis menahan rindu, karena bunda gak kuat lihatnya, terpaksa VC dilanjutkan oleh ayahnya. Ayah berusaha menguatkan anak-anak untuk sabar, InsyaAllah sebentar lagi kita pulang, mengingatkan anak-anak sholat dan berdoa agar Bunda dan adek bayi boleh segera pulang. Setelah itu VC ditutup dalam keadaan anak-anak sudah lebih tenang.

Keadaan yang ditujukkan anak-anak itulah yang pada akhirnya menguatkan Bunda untuk segera bisa berdiri dan ke kamar mandi sendiri tanpa bantuan. Sekuat tenaga esok harinya saya belajar dengan menahan sakit. Bayangan wajah anak-anak semalam membuat saya berhasil pada hari itu juga turun dari tempat tidur, berlatih berjalan, sekaligus buang air ke kamar mandi. Alhamdulillah sore hari saat dokter visit saya sudah boleh pulang.

Ternyata setelah di rumah, Khamasa cerita bahwa malam itu saat mau tidur dia nangis, tapi diam-diam supaya gak ada yang lihat. Dia nangis karena kangen, padahal saat video call saya pikir dia tegar karena memang gak nangis seperti Kaysa.

Sebagai seorang ibu, anak-anak adalah dunia-nya, hati-nya, kebahagiaannya yang tak bisa dibandingkan atau bahkan ditukar dengan apapun. Kebersamaan yang saya bangun untuk mengusahakan selalu berkegiatan ataupun melakukan perjalanan bersama semata untuk menghangatkan keluarga kecil ini sebagaimana yang pernah saya rasakan saat kecil dulu hingga dewasa bahkan hingga saat ini meski sudah tak seintens dulu karena masing-masing memiliki keluarga.


Tuesday, March 1, 2022

Pengalaman SC ke 3 yang diRencanakan Part 2

Saat di ruang observasi, perlahan efek anestesi mulai menghilang perlahan tapi pasti. Kesakitan baru saja dimulai. Maklum karena saya masih sesar konvensional bukan metode eracs. Entah berapa suhu ruangan itu, saya hanya merasa sangat dingin, perih sekali di area sayatan secar itu. Sekuat tenaga mencoba menahan rasa sakit yang sebenarnya semakin bertambah dari waktu ke waktu. Hingga tiba saat saya hendak dikembalikan ke ruang perawatan, tentu ada perawat di ruang operasi yang mempersiapkan saya sembari membawa berkas.



saya : "Kok sakit banget ya suster?"

Perawat : "Iya ga apa-apa Bu wajar anestesinya sudah mulai hilang",

Saya : Memang ga apa-apa ya?" (dalam hati saya ini sakit banget loh sampai gigi bergemeletuk gemetaran nahan sakit dan dingin).

Perawat : "Iya ga apa-apa"

Saya cuma bisa diam kembali berusaha menahan sakit, selesai proses transfer, saya dibersihkan dan berganti pakaian dulu sebelum kembali ke ruang perawatan. Saat itulah saya kembali bertanya pada perawat ruangan. Jawabannya sama, rasa sakit itu wajar dan gak masalah. Sesampainya di kamar perawatan, ternyata suami lagi pulang ke rumah untuk mengambil pakaian kerja untuk esok hari.

Setibanya suami kembali saya mengungkapkan bahwa saya kesakitan di area jahitan. Entah saya lupa berapa kali suami bolak balik tanya ke perawat menyampaikan keluhan saya. Tapi suami kembali selalu dengan jawaban yang sama, ga apa-apa nanti ada waktunya dikasih obat pereda nyeri. Baillah, lago-lagi saya hanya bisa menahan sakit yang semakin tak terkira.

Jujur saya merasa selama ini adalah orang yang mampu menahan sakit bukan penakut. Namun, kala itu jika saya bisa gambarkan rasanya seperti tubuh ini terpisah dengan bagian kaki. Karena area jahitan di perut dan kaki belum sepenuhnya bisa bergerak karena anestesi yang belum sepenuhnya hilang. saya sampai ingin nangis tapi saya tahan, tapi ada sekali keluar air mata karena ga tahan rasanya. Saya juga bilang demikian ke suami dan dia hanya menguatkan. Jujur saya sampai sulit untuk bisa istirahat apalagi tidur karena rasa sakit yang cukup menganggu.

Sekitar beberapa jam setelahnya, barulah ada perawat yang memberikan suntikan anti nyeri melalui infus sembari berkata bahwa di dalam cairan infus itu juga sebenarnya sudah ada obat anti nyerinya. Dalam hati saya cuma bisa bilang 'tapi saya ga tahan sakitnya dan tiap orang level rasa sakit itu bisa berbeda-beda'. Alhamdulillah obatnya bekerja, perlahan mulai sedikit berkurang rasa sakitnya dan saya usahakan untuk bisa tidur malam itu.

Keesokan paginya kaki sudah mulai bisa sedikit bergerak dan beberapa kali saya ditanya apakah masih sakit sekali, saya cuma bisa jawab iya. Saya lupa setiap berapa jam ada perawat yang visit untuk cek tekanan darah. Kalau saya tidak salah ingat ada salah satu perawat yang bilang kalau masih sakit banget coba nanti sampaikan sendiri ke dokter saat visit sore, karena spengetahuan perawat tersebut ada obat anti nyeri yang tidak tercover bpjs tapi cukup ampuh untuk nyeri, obatnya dimasukkan melalui lubang (maaf) anus.

Saya senang banget waktu dokter visit, karena bisa menyampaikan keluhan sekaligus diberikan solusinya dan saat itu juga dikerjakan. Alhamdulillah setelah diberikan obat itu, rasa sakitnya sangat berkurang. Saya mulai bisa belajar bangun untuk duduk tanpa bantuan. Keesokan harinya saya belajar untuk turun dari tempat tidur, berdiri perlahan kemudian berjalan ke kamar mandi.

Total di rumah sakit cuma 3 hari. Yap, hari pertama masuk siang hari ldan angsung operasi sekitar jam 6 sore, pemulihan 2 hari. Tepat di hari ke 3 saat dokter visit sore hari, saya sudah bisa pulang. Menjelang maghrib saya pun pulang dengan jalan yang masih perlahan.



Pengalaman sesar ketiga cukup berat dan traumatis buat saya. Dulu SC pertama saya cukup kuat, begitupun sesar kedua saya lebih kuat bahkan berencana punya anak lagi setelah 5 tahun dan ternyata Allah SWT kabulkan. Tapi setelah mengalami SC yang ketiga, saya takut dan jujur tidak punya keinginan menambah anak baik dalam waktu dekat maupun jangka panjang. InsyaAllah cukup 3, hehe.

welcome to the world my baby number 3 KHANSA AZKIARA . . .


-selesai-





Monday, February 28, 2022

Pengalaman SC ke 3 yang diRencanakan Part 1

 Sepekan menjelang akhir tahun waktunya cek up ke dokter sekaligus menentukan tanggal lahiran. Hasilnya, dokter menyarankan cek up terakhir di tanggal 5 Januari dan kemungkinan untuk SC di tanggal 6 Januari.


Selama sepekan itu kepikiran untuk dimajukan jadwal cek up terakhir sekaligus SC nya kalau bisa di tanggal 4 aja. Kenapa? Jadi, Qadarullah saya, suami, dan anak kedua lahir ditanggal 30. Kakak (anak pertama) selalu tanya kenapa gak ada yang sama seperti dia lahir di tanggal 4 (di keluarga inti kita). Dengan pertimbangan mau bikin kakaknya happy, akhirnya diputuskan untuk SC tanggal 4 Januari.


Oke, kita sepakat cek up di tanggal 3 januari. Saat cek up saya tanya kesediaan dokter (kan siapa tahu jadwal beliau padat) untuk SC besok di tanggal 4 apakah bisa. Alhamdulillah ternyata bisa dan malam itu juga saya langsung cek darah dan swab.

Keesokan paginya, saya usahakan terakhir makan sekitar jam 8 pagi karena rencana SC siang. Sampai di RS sambil urus administrasi dan nunggu kamar dapat kabar SC ditunda ke sore. Jadi saya putuskan buka puasa dulu karena lapar, hehe.. kita berdua makan di salah satu warung lamongan dekat RS.

Alhamdulillah setelah makan siang di luar, saya balik ke RS langsung masuk kamar, lanjut puasa lagi, sambil nunggu waktunya SC. Mulai pasang infus, cek ini dan itu. Saat sore tiba, dokter visit dan mengatakan SC diundur ke malam dan saya diminta buka puasa aja dulu (makan) biar ga lemes. Jujur saat itu uda males mau makan, karena gugup dan rasanya ga tenang karena belum kelar. Tapi untuk menjaga stamina, mau ga mau ya cuma makan 3 kurma, minum air putih, dan sepotong kecil kue.


Tiba-tiba sekitar satu jam setelah makan tadi, saya ditanya sudah makan apa aja, karena ternyata bisa SC langsung di jam itu. Jadilah saya langsung siap-siap untuk SC dengan sedikit terburu² (maaf ya ini kesan yang saya rasakan). Saat itu juga test alergi dan langsung diantar masuk ruang operasi.


Diantara tiga anak yang ketiganya SC, ini yang cukup berat. Mulai dari suntik anestesi sampai 2x kalau gak salah, karena saya merasakan jarum nusuk di bagian belakang sebanyak 2x, mungkin karena yang pertama saya bergerak nahan sakit, makanya diulang. Padahal dokter yang nyuntik masih sama saat SC kelahiran anak kedua (saat itu ga ada rasa sakit sama sekali). Entahlah, apa karena saya yang terlalu gugup jadi rasanya lebih sakit.


Saat anestesi mulai terasa efeknya, kebas di seluruh kaki sampai perut, napas agak sesak ya lagi-lagi mungkin karena terlalu gugup. Terasa kaki sampai perut mulai dibersihkan. Ternyata meski dianestesi, saya masih merasa agak ngilu sedikit dibagian bekas SC 6thn lalu, saya juga masih bisa merasa ada sentuhan dikaki yang rasanya kebas dan kesemutan itu. Tiba-tiba, dalam pikiran saat itu terbayang kematian. Dulu, saat memandikan jenazah ibu, saya diminta untuk pelan-pelan dan berhati-hati. Bibi saya berpesan untuk memandikan jenazah dengan lembut, karena orang yang meninggal masih bisa merasakan sakit dari sentuhan yang kita berikan. 'oh, mungkin begini ya kalau orang meninggal, badan ga bisa gerak tapi masih terasa sentuhan bahkan ngilu di bagian tubuh yang disentuh kalau terlalu berlebihan' dalam hati saya bergumam demikian.



Kedua, moment saat bayi dikeluarkan MasyaAllah.. bayinya perlu didorong supaya mau keluar, itu rasanya sampe susah napas, bisa dibilang sampe ingusan, tiba² pilek aja selesai itu. Terpaksa didorong supaya robekan diperut gak perlu diperlebar, karena bisa lebih lama pemulihannya.


Setelah bayi lahir, rasanya cuma happy walau sebenernya udah gak karuan. Saya sempat ditanya dokter mual gak karena jam puasa yang mungkin gak biasa, saya bilang mual, tapi ternyata karena cairan infus yang terlalu cepat bukan faktor puasa yang cuma kurleb sejam. Setelah aliran cairan infus disesuaikan, mual dan pusing hilang seketika.


Selesai SC, saya diantar ke ruang observasi. Selama kurang lebih satu jam di sana, obat anestesi pun sedikit demi sedikit mulai menghilang. Rasanya Allahu Akbar, menggigil, ngilu, perih, campur aduk jadi satu. Menggigil tingkat dewa, sampai² gigi gemletuk saling berbenturan. Tapi masih saya coba kendalikan dengan mengingat wajah sii bayik yang barusan lahir.

bersambung...


https://syifaachyar.blogspot.com/2022/03/pengalaman-sc-ke-3-yang-direncanakan.html


Hamil Ketiga yang diRencanakan

Kehamilan adalah perencanaan bersama antara suami istri. Bukan atas dasar keinginan pribadi atau sepihak. Oleh karenanya, setiap ibu hamil harus memiliki support system yang satu visi misi sama selama kehamilan bahkan sampai melahirkan. Dukungan bukan hanya sekedar kata-kata maupun materi tetapi melingkupi semua yang dibutuhkan ibu selama 9 bulan masa kehamilan.

Tidak ada kehamilan tanpa rencana, selama hubungan suami isteri berjalan dengan baik dan dilakukan secara sadar maka jika akhirnya terjadi kehamilan itu sebuah anugerah yang patut disyukuri. Setiap ruh yang ditiupkan pada janin oleh Allah SWT dalam perut seorang perempuan, itu artinya ia dipercaya mampu menjaga, merawat dan membimbing seorang anak.





Saya memutuskan untuk memiliki anak ketiga dengan niat pertama melakukan tindakan melepas alat kontrasepsi IUD pada bulan November 2019. Karena berpikir sudah mwncapai masanya IUD dilepas setelah 5 tahun bersama. Alhamdulillah selang 5 bulan setelah melepas IUD, saya kembali hamil.

Setiap kehamilan ada tantangan tersendiri. Meskipun terbilang sudah hamil 2 kali sebelumnya, namun kehamilan ketiga ini seperti kembali hamil pertama. Pasalnya, saya tidak pernah merasa seberat ini saat hamil. Mulai dari mual, muntah, tidak berselera makan apapun, sembelit hingga sakit nyeri sendi dan tulang di beberapa bagian tubuh. Bahkan menjelang trimester akhir, rasanya sulit untuk bisa tidur dengan nyenyak.

itulah mengapa ibu hamil tidak hanya membutuhkan asupan gisi yang komplit guna memenuhi kebutuhan janin, tapi juga dukungan moril untuk menjaga perasaan dan mental si ibu agar tetap dalam kondisi bahagia. Tapi namanya manusia, pasti tidak terlepas dari rasa yang kurang menyenagkan seperti sedih dan kecewa. Karena itu, ibu hamil juga perlu mendekatkan diri lebih dekat lagi kepada Allah SWT agar selalu terlindungi dari hal-hal buruk yang tidak diingini.

Menjalani kehamilan ketiga dengan lancar meski beberapa keluhan seperti yang telah diceritakan sebelumnya adalah hal yang wajar. Mungkin sebagian besar ibu hamil memiliki keluhannya masing-masing. Persiapan kelahiran pun sudah dipikirkan saat hamil, mengingat ini adalah kehamilan ketiga pasca dua kehamilan dengan kelahiran secar sebelumnya. Banyak kekhawatiran yang terlalu dipikirkan sehingga saya kurang rileks selama trimester akhir menjelang kelahiran. Walau bagaimanapun, apapun pilihan metode kelahiran tetap harus dilalui dengan mental yang kuat.

Kehamilan ketiga artinya menjadikan anak pertama sebagai seorang kakak dengan dua adik dan anak tengah menjadi seorang kakak dengan satu adik. Agar anak-anak memahami bahwa kasih sayang orang tua tidak akan berkurang meski ada tambahan anggota baru, saya selalu mendekatkan mereka meski adiknya masih dalam kandungan. Caranya dengan mengajak mengobrol bersama, diskusi bersama, dan memberikan kesempatan kedua kakaknya untuk menyalurkan rasa sayang terhadap sang adik dalam perut.

Begitu banyaknya kebutuhan selama hamil mulai dari kondisi ibu baik secara fisik maupun psikis, persiapan melahirkan, lingkungan keluarga inti yang saling mendukung, dan masing-masing anggota keluarga yang perlu diberikan pemahaman bahwa bertambahnya anggota keluarga merupakan kebahagiaan bersama.

Semangat untuk semua ibu hamil di manapun berada, semoga Allah SWT mudahkan dan mampukan setiap tantangan dengan hadirnya rasa sabar yang besar.

Barakallahufiikum.

Thursday, February 3, 2022

Kisah MENIKAH

Menikah

Jangan lakukan

hanya karena CINTA

Jangan langsungkan

hanya karena takut kehilangan

Karena MENIKAH lebih

lebih dari sekedar hidup bersama

MENIKAH butuh MENTAL yang SEHAT

RASA yang tajam

SABAR yang tak berbatas

MAKLUM yang banyak

MENIKAH harus SIAP di segala lini tanpa TAPI

Friday, July 9, 2021

TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA

 

 Manusia




Dunia ini diciptakan sementara, sebagai salah satu persinggahan bagi seluruh makhluk hidup. Kelak ada akhir tujuan, yaitu akhirat yang kekal. Makhluk hidup yang paling sempurna diciptakan adalah manusia.

Sebagaimana Allah subhanahu wata'ala telah berfirman bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi yang tertuang dalam QS Al-Baqarah ayat 30 yang artinya :


"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

 

Tujuan Penciptaan Manusia

Manusia sejatinya adalah pemimpin dengan diberikannya akal yang dapat digunakan sebaik mungkin dalam menjalani kehidupan di dunia. Namun, manusia juga diberi hawa nafsu yang bisa jadi menguasi dirinya sehingga akal tadi tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Karena bagaimanapun juga, kedudukan setiap makhluk di hadapan Tuhannya sama-sama memiliki tujuan penciptaan untuk beribadah kepada-Nya. Hal ini tertuang dalam Qs Adhariyat : 56 yang artinya berbunyi :


"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku,"

 

Adapun bacaan dalam shalat yang sering dibaca saat takhiyat akhir juga mengingatkan manusia akan tujuan penciptaannya. 

  '"Innasholati Wanusuki Wamahyaya Wamamati Lillahirabbil 'Alamin"

Artinya: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

 

Kehidupan Manusia

Dalam menjalani kehidupannya, manusia merupakan makhluk sosial. Karena itu manusia hidup bersosialisasi, saling membutuhkan satu sama lain di beberapa aspek. Baik untuk urusan bisnis maupun hati. Ya, tentu saja Allah sudah menganugrahkan manusia rasa cinta di antara manusia. Agar bisa saling rukun dan hidup berdampingan dengan toleransi sesuai syari'at.


"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (QS. Al Hujurat :13)

 

Allah subhanahu wata'ala telah mengatur hubungan manusia laki-laki dan perempuan yang memiliki rasa saling mencintai dalam maghligai pernikahan. Manusia dapat membangun rumah tangga, memiliki keturunan dalam aturan yang sah sesuai syari'at agama Islam. Allah mengatur sedemikian rupa agar tidak ada satu pihak yang dirugikan apalagi direndahkan. Laki-laki dan perempuan dalam pernikahan memiliki hak dan kewajiban masing-masing.


Proses apa yang harus dilalui oleh manusia baik laki-laki maupun perempuan untuk sampai pada tahap pernikahan? silahkan menanti pada tulisan selanjutnya ya.. 



-penulis-

Tuesday, March 2, 2021

My Love


Aku mencintaimu pertama kali

Bukan karena fisikmu

Karena aku tak pernah tahu dengan pasti seperti apa rupamu

Bukan pula karena hartamu

Karena aku tak pernah menerima sepeserpun darimu


Tapi aku tahu dengan pasti ketulusanmu menyapaku

Kebaikanmu menggenggam erat masalahku saat itu

Caramu memperlakukanku dengan lebih banyak diam agar ketenangan menghampiriku


Meski tanganmu tak menyentuhku

Apalagi dekap hangat tubuhmu tak kurasa karena jarak memisahkan kita kala itu


Tapi aku tahu “baik hatimu” yang terpendam

Memancarkan sinarnya untukku saat aku membutuhkannya

Sampai hari ini sampai detik ini

Aku percaya

Masih ada banyak kebaikan yang belum aku gali darimu

Sabar adalah teman bersamamu

Kebaikan dan ketulusan tanpa pamrih itu


Wednesday, July 25, 2018

Puisi "Trauma"

 TRAUMA


beda dengan dendam

bukan pula memendam

apalagi kemarahan

ia hadir . . .

saat sebuah keadaan

mampu menorehkan lebih dari sekedar

luka dan kesedihan

melampaui rasa khawatir yang dimiliki sebelumnya

semua rasa itu . . .

menyatukannya, memaksanya bergulung menjadi satu tanpa ampun

oleh karenanya . . .

trauma. . .

tak dapat disembuhkan hanya sesaat

bahkan bertahun

apalagi bila ditambah dengan kehadiran trauma baru

tapi ia tersembunyi

sangat dalam

jauh didasar diri seseorang

yang akan muncul pada saat-saat “itu” mampu mengingatkannya kembali

pada peristiwa lama

trauma . . .

ketakutan besar yang tak akan pernah sanggup ia lewati kembali untuk diulang


Terlahir dengan Takdir Berbeda