Search This Blog

Showing posts with label cerita pendek. Show all posts
Showing posts with label cerita pendek. Show all posts

Wednesday, April 14, 2021

TIARA SI ANAK BAIK



Bermain di Rumah Tasa

Suatu hari di desa Kukuju tinggallah seorang gadis bernama Tiara. Tiara adalah anak baik. Saat sedang asyik bermain bersama temannya, Jila, Ranzi, Ziya, Kima, dan Tasa, ibu Tasa menyodorkan jus segar. 

Tiba-tiba 'tok tok tok', "Assalamualaikum,” terdengar suara salam. Tiara mengintip di jendela, ternyata ada paket. Paket itu berisi donat Loplip. Donat itu biasanya berisi es krim dan harganya murah. Oleh sebab itu, banyak orang yang membelinya, termasuk Tiara. Namun, jarang sekali ibunya belikan. Namun Tiara tidak sedih, justru bersyukur.


Saat sedang asyik makan donat dengan lahap, tiba-tiba kakak Ruyi datang menghampiri mereka. kakak Ruyi adalah kakak Tasa. "Sudah habis?", tanya kakak Ruyi saat melihat mereka makan donat. "Masih ada sisa kok,” kata Tasa sambil mengunyah. Setelah donat dan jus itu habis, kakak Ruyi pergi ke kamar sebentar. Tasa kebingungan, "Kakak Ruyi sedang apa di kamar?", tanya Tasa ketika sampai di kamar kakaknya. "Duduk di ruang tamu aja dulu,” kata kakak Ruyi.


Setelah Tasa duduk di ruang tamu, Tiara bertanya kepada Tasa, "Tasa kakakmu sedang apa?"

“Entahlah," jawab Tasa. Lalu kakak Ruyi turun ke bawah. "Ayo adik-adik siapa yang mau mendengarkan cerita?" Kata kakak Ruyi ketika duduk di ruang tamu bersama teman-teman Tasa. "Aku mau kak, aku mau," kata semua teman Tasa dan begitu pula Tasa. Kakak Ruyi mulai membuka buku dan bercerita.


Di sebuah pondok kecil, tinggallah dua ekor binatang. Mereka adalah kelinci dan kucing. Saat itu, mereka pergi berjalan-jalan ke bukit. Namun, mereka tidak tahu arahnya, padahal mereka ingin sekali ke puncak bukit melihat pemandangan alam yang indah. "Ciiing, kita jalan mana?", tanya Kelinci. "Aku mana tahu,” jawab Kucing. "Ya sudahlah kita pulang ke pondok aja,” jawab Kelinci. Mereka pun akhirnya pulang.


Di tengah perjalanan, "Aha, aku punya ide bagus,” kata Kucing. "Maksudnya?", tanya kelinci. "Gimana kalau kita ke tepi sungai? disana ada rerumputan indah dan udara segar, bahkan pohon-pohon apel tumbuh segar. Ketika kita lapar, kita bisa makan buah apel itu aja,” usul Kucing. "Oke kalau begitu,” jawab Kelinci. Mereka berdua pergi ke sungai dan akhirnya sampai. 


"Tamat," kata kakak Ruyi sambil menutup buku.

"Wah ceritanya menyenangkan", kata Tiara setelah mendengarkan cerita itu. 

"Iya benar," kata teman-teman Tiara. "Kakak Ruyi, bolehkah Tiara bercerita?" tanya Tiara. "Tentu saja boleh," jawab kakak Ruyi. "Nah, dimulai ya,” kata Tiara.


“Dulu Tiara sangat disayangi oleh ayah dan ibu. Begitu pula sebaliknya, Tiara juga sayang kepada ibu dan ayah. kalau Tiara sakit Ibu siap membantu Tiara ketika sakit. Kalau”.. “eits, tunggu dulu,” teman Tiara menyela “maksudnya ibumu siap mengobatimu ketika sakit?” tanya teman Tiara. “Betul sekali,” jawab teman Tiara.


“Lalu, ibumu bisa apalagi Tiara?” tanya Ranzi.

“Selain mengobati aku ketika sakit, ibuku pandai memasak, masakan ibuku selalu enak,” jawab Tiara.

“Oh iya, ibuku juga berjualan kismis dan kue kecil,” kata Tiara.

“Wah hebat sekali ibumu Tiara,” seru teman-teman Tiara. 

“Terimakasih ya teman - teman,” jawab Tiara. Mereka pun tertawa dengan gembira.


Tiba - tiba ibu tasa berkata : “Ayo anak - anak waktunya beres -beres ruangan ini ya, kita nanti mau shalat ashar!” ajak Ibu Tasa. 

“Baik tante,” jawab semua teman Tasa termasuk Tiara.


Tiara membuang sampah sisa snack dan kotak donat. Tiara juga menyapu sisa-sisa makanan yang terjatuh di lantai. Tak lupa, Tiara juga membantu ibu tasa mencuci piring.

“Tiara bantu ya Tante,” kata Tiara.

“Oh iya, ayo sini Tiara, terimakasih ya,” kata ibu Tasa.

“Sama-sama Tante”, jawab Tiara.


Ibu Tasa melihat hanya Tasa dan Tiara yang berdiri lalu membereskan ruangan.

Ibu Tasa kembali bertanya, “Siapa yang mau cokelat?”

“Saya, aku, aku Tante,” seru semuanya.

“Oke, kalau begitu semuanya saling membantu membereskan ruangan agar cepat bersih ya!” kata Ibu Tasa.

“Siap Tante,” akhirnya semua bergerak membersihkan ruangan.

“Sudah bersih bu,” kata Tasa.

“Ayo wudhu ajak kakak ruyi semua pun wudhu,” kata Ibu Tasa.


Seusai sholat ashar semua pun pamit pulang termasuk Tiara.

“Assalamu’alaikum Tasa, Tante, Tiara pulang dulu ya,” pamit Tiara.

“Wa’laikumsalam Tiara, hati - hati di jalan ya,” kata Tasa. 



-Tamat-


Ide Cerita : Khamasa Adzakiya

Penulis Cerita : Khamasa Adzakiya

Editor tanda baca : Bunda

Ilustrator cover : Bunda



Friday, August 28, 2020

NYAMAN

 *cerita singkat Faras dan Dera*

Semakin dewasa seseorang akan tergerak memilih pasangan yang mampu membuatnya merasa nyaman, bukan lagi yang hanya sekedar bertanya “sudah makan belum?”. 

gambar : freepik

Lamunanku mengembara pada luasnya kenangan masa lalu yang masih tersusun rapi dalam memori. Aku tak pernah mampu membuang barisan manis pahit yang pernah tercipta di masa dulu. Bukan karena aku tak mau, hanya saja semakin kuat usahaku menghapusnya entah mengapa justru semakin terlihat nyata. Jadi daripada aku bersusah payah melupakannya, lebih baik aku menyimpannya dengan rapi agar tak mengganggu kehidupanku di masa kini.

***

“Kamu tahu apa yang membuatku selalu kembali padamu?” tanyanya padaku.

“Apa?” aku balik bertanya.

Dia menghela napas dalam, matanya berpendar menatap langit di atas yang mulai terlihat redup, sama seperti pias wajahnya saat ini. Aku tak mengerti dengan sosok laki-laki yang kini berdiri tepat di sampingku. ‘apa sih maunya?’ rutukku dalan hati. Karena bagiku dia punya kelebihan dari segi ketampanan, kebaikan, tapi kenapa selalu gagal menjalin hubungan dengan beberapa perempuan. Ujung-ujungnya selalu kembali mencariku, berharap bisa kembali padaku. Andai jika ia tahu bahwa aku menerimanya dulu karena kasian saja. Ya, benar sekali. Aku sangat kasihan padanya bukan cinta apalagi sayang. Sejauh yang aku tahu, perasaan itu tidak bisa diciptakan apalagi dipaksakan. Karena perasaan akan tercipta dengan sendirinya oleh campur tangan Yang Maha Kuasa.


“Aku sulit melupakanmu Ras,” katanya melemah sambil menatap mataku yang tak sengaja beradu.

“Kenapa?” aku hanya sanggup balik bertanya.

“Kamu terlalu baik,” katanya mantap.

‘What? gak salah dia bilang begitu?’ kata-kataku tercekat dalam rongga tenggorokan tak mampu keluar. Aku tertunduk membisu tak tahu harus berkata apa.

“Selama menjalani dengan yang lain aku tak bisa menemukan kamu di sana,” tuturnya.

Rasanya ingin sekali memotong pembicaraanya, tapi aku tahan. Jelas saja dia tidak bisa menemukanku pada diri orang lain. Kita beda jasad, sudah pasti beda hati dan jiwa. Tak habis pikir bagaimana dia bisa ingin menjalani hubungan dengan perempuan tapi ada aku di jiwanya.

“Aku tak bisa menemukan yang lebih baik darimu.” jelasnya.

“Mungkin bukan sekarang Der, tapi aku yakin suatu saat kamu akan menemukannya,” kataku.

“Kapan? Sampai kapan aku harus menunggu? Jika ada yang baik dihadapanku, yaitu kamu, kenapa aku harus mencari yang lain?” tanyanya membrondong.

Aku hanya bisa diam, sebelum akhirnya dia meneruskan perkataannya.

“Please terima aku lagi, janji aku nggak posesif atas semua kegiatanmu,aku akan berusaha mengubah semua yang tidak kamu suka, aku akan melakukan apapun yang kamu suka saja,” katanya setengah memohon padaku.

“Aku nggak bisa, berapa kali aku harus bilang? Bagiku masa lalu itu ada bukan untuk kita kembali mengulang, cukup dijadikan pengalaman, pembelajaran, tidak lebih,” jelasku padanya sedikit panjang.

“Kamu yakin?” tanyanya padaku.

“Sangat yakin,” ucapku sungguh-sungguh.

“Suatu hari kamu akan tahu, sampai kapanpun tak ada yang bisa menggantikan kamu di hatiku,” katanya seperti terdengar ancaman sebenarnya untukku.

“Jangan begitu, tak ada satu pun yang tahu keadaan di masa depan,” kataku.

“Ya, mungkin kamu benar, aku hanya terbawa perasaanku saat ini yang begitu besar padamu,” tuturnya.

“Hati milik Sang Pencipta, mintalah pada-Nya labuhan yang tepat untuk hatimu kelak,” jelasku padanya bijak.

Dia terlihat memejamkan mata sejenak, kemudian bersiap berlalu dari pandang sebelum akhirnya ia berkata untuk terakhir kalinya.

“Makasih ya Ras untuk semua yang sudah kita lewati bersama dulu, maaf jika aku terkesan sulit berpaling darimu, semoga kamu mau memaafkan kesalahan aku yang sengaja atau tidak sengaja selama ini, makasih juga sudah meluangkan waktu sia-sia bersamaku hari ini,” jelasnya panjang lebar.

“Sama-sama, maaf jika aku mengecewakan dan tidak bisa menjadi yang terbaik bagimu, aku pulang duluan ya,” aku sengaja bergegas agar percakapan ini tak berlarut-larut.

Tak kusangka tangannya menahan lenganku, lalu ia berkata,

“Ijinkan aku duluan, aku nggak mau menatapmu berlalu,” tuturnya,

Aku hanya mengangguk dan membiarkannya pergi terlebih dahulu.

***

Ingatanku hari ini membuatku berpikir sesaat tentang sesuatu yang tak sengaja melintas. Ketika seseorang berkata rasa, maka yang hadir bukan lagi apa yang nampak di mata. Melainkan yang benar terasa sampai di relung hati. Karena beberapa pasang mata memandang seringkali dengan sudut yang berbeda. Namun, kebaikan hati, jiwa dan ketulusan mampu menundukkan pandang sehingga terciptalah nyaman yang sukar tergantikan.


 -selesai-

Saturday, June 20, 2020

DIARY FA - Dhiba

Curahan Hati Dhiba

Mendung tak biasanya hadir sepagi ini, membuat rasa malas enggan memulai hari menghampiri. Walau aku yakin sebenarnya bukan itu yang menjadi alasan utama. Entah sampai kapan aku terus menerus merutuki diri. Padahal jika dipikir bukan aku yang mengakhiri ini sampai tuntas. Iya, dia. Laki-laki itu telah memutuskan hubungan selamanya denganku secara tidak langsung dengan menikahi perempuan lain. Ah, aku jadi ingat dengan perkataanku sendiri padanya dulu saat kami masih berkomunikasi meski sudah tak punya hubungan spesial lagi. Tak kusangka ia melakukannya dengan sempurna.

"Carilah perempuan lain yang lebih baik dariku, yang bisa mencintaimu, menerima semua tentangmu, asal jangan temanku, apalagi sahabtku, cuma itu pesanku."

Begitulah yang kukatakan padanya dulu saat ia menceritakan pertemuan dengan salah satu teman dekatku ketika sekolah dulu. Salut, ia masih mau mendengarkanku, menganggapku sebagai adik perempuannya katanya. Namun bagiku, tak pernah ada adik menaruh cinta pada abangnya sebagai seorang laki-laki. Berlaku juga untuk sebaliknya.

*****




"kamu ketemuan ya sama temanku?" tanyaku melalui sambungan telepon.

"iya, dia masih saudara kok walaupun jauh," jawabnya.

"nggak ada cewek lain?" tanyak ku langsung pada intinya.

"maksud kamu apa?" dia balik bertanya.

"kamu lagi pdkt (pendekatan) kan?" tanyaku lagi.

"emang kalau iya kenapa?" jawabnya dengan mengembalikkan pertanyaan padaku.

Aku menghela nafas panjang sebelum akhirnya melanjutkan percakapan.

"kamu boleh sama cewek manapun, asal bukan dari kota yang sama dengan kita apalagi sama temanku." jelasku panjang.

"oh, alasannya?' tanyanya lagi.

"nggak ada, pokoknya jangan sama temanku," jawabku sekenannya.

"oke, nanti aku pikir-pikir dulu," jawabnya mengiyakan permintaanku.

Percakapanku bebrapa tahun lalu menjadi sebuah kenyataan. Aku tak pernah menyangka bahwa ia menuruti keinginan yang bisa dibilang terakhir dariku. Aku merasa meski ia tak lagi mencintaiku tapi masih memikirkan perasaanku tentang perempuan yang akan ia ajak seirus. Terbukti, perempuan labuhan terakhirnya itu tak ku kenal sama sekali. Bahkan setelah menikah pun mereka tak pernah meposting kebersamaan mereka di media sosial. Aku merasa dihargai namun juga perih dalam waktu yang sama.

*****

Kulihat kau menjabat tangan seorang laki-laki dengan mantap

Dalam kesadaran penuh tanggung jawab

Kau mengucapkan satu kalimat khidmat

Teriring doa dari seluruh pasang mata menatap

Sebutir bening luruh di pipi seorang ibu

Yang telah ikhlas melepas sang anak tersayang

Berganti peran menjadi imam dari seorang gadis pujaan

Hatinya berbahagia, meski ada sedikit terselip perih

Akan gadis impian yang dulu pernah hadir

Kini telah seutuhnya menjadi kenangan

Selamanya tak kan berubah lagi

FA-Dhiba-Jogja,2010

*****

Ku pejamkan mata menikmati setiap tetes airmata yang luruh dengan mudahnya. Mungkinkah beliau masih ingat aku, sebagai gadis kekanak-kananakan yang begitu dimanjanya dulu. Ah, kenangan itu kembali memenuhi isi kepala tanpa mau berhenti.

"Dhiba, kamu nggak ada kegiatan?" tanya Bang Afnan. Suara lembutnya terdengar dari balik pintu kamar.

"enggak Bang, aku di rumah aja hari ini," jawabku cepat.

Setelah lulus sebagai siswa dari salah satu sekolah menengah atas di kota kelahiran, aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah, lebih tepatnya di salah satu universitas negeri yang berada di kota Jojakarta. Aku tak mengambil kos tapi lebih memilih tinggal bersama Bang Afnan di Jogjakarta. Rumah kami di Bandung sementara ditempati oleh Bang Athar bersama istri, karena mereka baru menikah dan belum memiliki rumah sendiri.

Kuusap layar ponsel berharap ada satu panggilan tak terjawab atau pesan yang menunggu dibalas. Nihil. Tak ada satupun pesan masuk apalagi panggilan untukku. Airmataku luruh dengan sendirinya meski bibirku mengulas senyum termanisnya.

'Aku rindu,' bisikku lirih dalam hati. Aku mulai lagi, menulis tentang dirinya yang tak pernah ku mengerti mengapa selalu mengisi bayang-bayang hidup. Tanganku seolah tanpa hambatan, meluncur mengurai setiap baris kata-kata tentangnya.

Senja mengiringi kabut menyapa malam

Meninggalkan mentari hangat yang semakin hilang

Aku terseok diantara dedaunan kering

Berharap uluran tanganmu hadir

Seketika mendekapku dalam senyap

Meski rasanya itu mimpi

Entah mengapa aku tak pernah lelah

Begitu berharganya kah kamu?

Hingga menggerogoti hati

Mengabaikan setelah kau lukai

Tapi aku tetap rindu

Merindu pada yang tak mampu terobati

FA-Dhiba-Jogja,2010

Tak mampu lagi ku bendung airmata yang terus bergejolak. Aku rapuh, merindu tentang kamu. 'Maaf,' lirihku pelan. Kurasakan getaran tangan dan bahu yang tak terkendali. Aku hanya mampu mendekap erat diri sendiri agar tak perlu mengeluarkan suara saat menangis. Jangan tanya berapa kali aku sudah melakukan ini, karena aku pun tak mampu mengingatnya dengan pasti.

*****

Aku tahu ini salahku

Yang tak pernah berjuang lebih untukmu

Tapi itu karenamu

Karena kaupun begitu

Aku sangat lelah

Maaf...

Tapi kini terus merindu

Aku tak mampu membendungnya

Kisah kita terlalu indah jika hanya menjadi kenanganku sendiri

Sedangkan kamu?

Menghempaskannya semudah langkahmu yang kian menjauh

FA-Dhiba-Jogja,2010

Entah sudah berapa kata dalam goresan penaku tentangmu. Aku tak lelah dan mungkin tak bisa berhenti memikirkanmu. Aku perlu waktu, untuk mengikis semua rasaku padamu dengan perlahan. Karena aku mungkin tak seperti mu yang dengan mudahnya berlalu begitu saja. Aku punya rasa sekaligus luka secara bersamaan dalam satu waktu yang sulit untuk kudamaikan. Kedua hal yang sangat berbeda, mungkinkah perlu waktu seumur hidupku untuk merelakan segalanya?


***Tamat***


Wednesday, December 18, 2019

PURA-PURA LUPA

 POV Dhiba

**********************************
"Hei, uda lama?"

"Nggak, baru dateng."

Sapaan kami untuk pertama kali setelah setahun lamanya ia menghilang memutuskan komunikasi begitu saja. Aku tahu, ia sudah milik yang lain. Aku tahu, ia tak mungkin kembali. Aku juga tahu, sudah tentu tak ada lagi namaku di hatinya. Karena takdir kita hanya sekedar dipertemukan di masa lalu, namun Bukan Kita yang dipersatukan di masa depan. Entah apa yang membuatku mengiyakan ajakan darinya untuk bertemu. Mungkinkah aku merindukannya? Atau hanya sekedar ingin tahu untuk apa ia ingin menemuiku.




Fattah.

Dia adalah laki-laki yang sangat istimewa di hatiku dulu, bahkan mungkin hingga saat ini. Tuhan menghadirkannya dalam episode kehidupanku dengan indahnya. Dia juga dengan mudahnya meninggalkanku di saat tantangan menyapa bersama. 'Harusnya kamu berjuang dan mempertahankan ini semua jika kamu cinta. Bukankah kamu sudah berjanji?' Hal itulah yang pernah terlintas ingin kurutuk padanya. Namun nyatanya menguap bersama hari-hari yang kian berlalu. Entah bagaimana caranya aku akan melupakan dia, aku belum tahu. Kini laki-laki itu duduk di hadapan, memandangku sesaat kemudian menyunggingkan senyum yang sedikit dipaksakan.

"Apa kabar Dhib?" tanyanya memulai percakapan.

"Alhamdulillah," jawabku singkat.

"Sibuk apa sekarang?" tanyanya lagi.

"Biasa aja," jawabku bingung. Ingin sekali berkata padanya, aku nggak sibuk apa-apa sampai bisa menemuimu di sini. Ugh, lagi-lagi aku hanya mampu berkata dalam hati.

"Kamu, hmm…..", kalimatnya menggantung.

"Apa?" tanyaku penasaran.

"Apa abang tidak masalah menanyakan hal ini padamu?" tanyanya.

Aku hanya sanggup mengangguk tanda setuju.

"Kenapa kamu harus ke luar negeri?" tanyanya melemah, seperti menahan haru yang sulit diungkapkan.

Pertanyaannya membuatku tersentak seketika, sekaligus sanggup membuat panas wajahku. Beruntung aku bisa menepisnya cepat-cepat. Tahu darimana dia kalau aku akan pindah ke luar negeri? Apa selama ini ia masih stalking media sosial milikku? Aaaghr GR nya aku.

"Aku hanya melanjutkan sekolah disana," jawabku datar.

"Bukan karena abang?" tanyanya dengan tatapan penuh percaya diri atau entah itu harapan.

Aku menggeleng perlahan.

'Ya, karenamu bang', ucapku dalam hati. Aku hanya sanggup mengatakan itu pada diriku sendiri. Walau sejujurnya aku ingin sekali berkata yang sebenarnya. Tapi aku tak ingin ada hati yang tersakiti nantinya hanya karena itu.

"Dhiba…. jujurlah!" titahnya padaku.

Sekali lagi aku hanya bisa menggelengkan kepala. Maafkan aku yang berbohong untuk menjagamu dan tentunya pasanganmu saat ini. Walau rasanya hatiku sakit sekali.

"Aku sudah jujur, kepergianku ke luar negeri murni hanya untuk sekolah lagi." Jawabku mantap, meski jantungku berdegup hebat seolah akan ada gemuruh yang siap meruntuhkan pertahananku. Aku menyakinkan diri sambil berusaha agar butiran itu tak perlu luruh di hadapanmu.

"Abang rindu Dhib, maaf….." tuturnya pelan samar kudengar.

Bagai mendapatkan hawa sejuk, aku merasa di atas angin mendengar penuturannya. Tapi aku tak mau larut dalam angan-angan kosong belaka. Karena nyatanya, kita dengan keadaan yang berbeda sekarang.

"Untuk apa bang?" tanyaku ingin tahu maksud dan tujuannya berkata seperti itu.

"Nggak ada Dhib, abang hanya ingin mengatakannya saja," jawabnya polos.

"Mudah ya buat abang?" tanyaku sinis.

"Maksudmu?" Dia balik bertanya sedikit memincingkan sudut matanya, heran.

"Untuk apa bang mengungkapkan hal yang sia - sia?" tanyaku lagi jengkel dibuatnya.

"Bagi abang itu tidak sia-sia, abang ingin kamu tahu, bahwa dulu….. maafkan abang Dhiba," Ia tak sanggup meneruskan percakapan dan tiba-tiba menggenggam tanganku memohon. Aku tak kuasa menolak dan justru tersenyum manis dalam hati menikmati genggaman tangannya yang telah lama aku rindukan.

"Dhiba tidak mau mengungkit semua yang sudah berlalu, maaf tolong lepaskan tangan abang," kataku, meski hati ini berteriak 'genggam erat selalu tangan ini bang'.

"Kasih abang kesempatan sekali ini aja Dhib, setidaknya sebelum kamu pergi ke luar negeri, abang mohon maafkan abang", genggaman tangannya semakin erat kurasa, semakin membuatku tak mampu berkata tidak lagi. Aku mengutuk diriku sendiri, ada apa denganku hari ini.

"Jika hanya sebuah maaf, maka aku sudah memaafkan abang sejak dulu, tepat saat hari dimana abang memutuskan hubungan kita. Aku percaya, pilihan abang tepat", jelas ku padanya. Belum sempat ia menjawab, aku meneruskan kalimatku.

"Pulanglah bang, jangan sakiti istrimu seperti ini,". Entah malaikat lewat dari mana aku bisa berkata dengan mudahnya. Tapi jangan tanyakan bagaimana rasanya hatiku, sakit. Ketika ku tahu bahwa, aku hanya bisa mengenalmu, tapi bukan aku yang beruntung memilikimu. hufft…. aku menghembuskan nafas berat mengingat bayanganmu dulu melintas memainkan sebuah lagu lawas dari naff.

Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku

*****

"Maafkan abang Dhiba, sungguh abang tidak bermaksud meninggalkanmu, abang memang pengecut, tak berani lagi menghadapi keluargamu, abang tak layak untuk Dhiba, abang merasa rendah dan tidak berguna", tuturnya yang menurutku sudah tak ada lagi gunanya kini.

Aku hanya termangu dalam lamunanku sendiri. Angin senja disini berbaik hati mampu menyegarkan hati dan perasaanku yang kian sesak. Bagaimana mungkin aku bisa menerima semua alasannya, atau bahkan bersorak ria dengan pengakuan rindunya terhadapku. Sedangkan aku tahu, disisinya kini telah ada sosok yang sama sepertiku yang harus dijaga perasaannya.

Wanita itu pernah melabrak, memaki, dengan tuduhan yang sama sekali tidak benar adanya. Padahal aku sama sekali tak mengenalnya, tapi dia pasti tahu bahwa aku adalah seseorang di masa lalu Fattah, calon suaminya. Sejak itu, aku pun semakin membuat jarak diantara mereka. Apalagi setelah mereka melangsungkan pernikahan, aku tak pernah sekalipun ingin tahu apapun lagi tentang mereka, meski mereka berdua pernah mengucapkan selamat atas kelulusan program sarjana di laman media sosialku.

"Aku sudah memaafkanmu bang, pulanglah", akhirnya aku membuka suara.

"Maafkan abang Dhiba, semoga perjalananmu lancar dan kehidupanmu lebih baik di sana", ucapnya padaku. Aku menangkap ada embun di matanya saat beradu pandang denganku.

"Terima kasih," jawabku menguatkan diri.

"Aku pamit ya, datanglah minggu besok di acara syukuran anak pertamaku jika sempat", terangnya sambil mengulurkan sebuah kertas undangan kecil bergambar robot.

Aku tidak begitu kaget dengan berita itu, karena sebelumnya aku sudah mendapatkan kabar itu dari Ibunya. Ya, komunikasi aku dengan Ibu Fattah masih berjalan walau hanya sesekali dan untuk hal penting saja.

Fattah berlalu pergi dari hadapanku dengan menyalamiku terlebih dulu. Seperti biasa ia menyodorkan punggung tangannya. Aku pun hanya menurut dengan mencium punggung tangannya persis seperti dulu.

"Abang masih sayang kamu, Dhiba", bisiknya lirih hampir tak terdengar. Lalu berlalu meninggalkanku yang masih duduk di bawah rimbunnya pohon pinus. Fattah berjalan melewati beberapa pepohonan yang semakin lama kian menjauh dari pandang.

Aku hanya diam, merenung tentang pertemuan ini yang entah ingin aku bodohi diri atau apa. Semua rasa sakitku muncul ke permukaan sekali lagi. Jauh lebih sakit, tapi anehnya aku juga lebih ikhlas. Mungkin inilah takdir yang harus aku lalui. Jikalaupun aku dilahirkan kembali, tentu aku tetap berada pada goresan perjalanan hidup yang seperti ini. Hikmahnya belum kurasa sepenuhnya, namun aku berharap akan ada secercah cahaya yang mampu menerangi hati kita untuk pasangan yang mendampingi kita masing-masing.

Untuk saat ini, biarlah aku pergi menjauh untuk menata hati semampuku, berusaha sebisaku, tolong jangan datang lagi, tolong berhentilah memberi harapan semu, pergilah dengan pilihanmu, aku tak apa. Biarlah aku dengan duniaku saja kini.

Pernah aku jatuh hati
Padamu sepenuh hati
Hidup pun akan kuberi
Apapun akan kulalui

Tapi tak pernah ku bermimpi
Kau tinggalkan aku pergi
Tanpa tahu rasa ini
Ingin rasa ku membenci

Tiba-tiba kamu datang
Saat kau telah dengannya
Semakin hancur hatiku

Jangan datang lagi cinta
Bagaimana aku bisa lupa
Padahal kau tahu keadaaannya
Kau bukanlah untukku

Jangan lagi rindu cinta
Ku tak mau ada yang terluka
Bahagiakan dia
Aku tak apa
Biar aku yang pura-pura lupa

Lantunan lagu milik Mahen seolah melukiskan perasaanku. Aku larut dan berusaha menguatkan diri. Selamat tinggal bang. Semoga perkataanmu dulu tak terjadi di masa depan. Doaku hanya itu saja tentang kita. Karena aku, sungguh tak ingin lagi bertemu apalagi memiliki hubungan apapun denganmu. Berbahagialah.

-Tamat-


Terlahir dengan Takdir Berbeda