PART 9
Tujuan yang tak lagi sama
Hari ini Fattah memutuskan untuk mengambil cuti dan menghabiskan waktu di kosan. Ia tak bisa berpikir lagi tentang bagaimana meneruskan kisahnya dengan Dhiba. Satu hatinya berkata, tak ingin kehilangan begitu saja, namun di sisi lainnya ia tak tahu harus berbuat apa. Sejenak lamunannya melayang mengingat ibu yang telah begitu sayang pada Dhiba. Bahkan tak segan beliau sering memberi Dhiba uang saku saat silaturahmi ke rumah.
Ya, Dhiba sering menyempatkan diri berkunjung ke rumah, meski tahu tak ada Fattah di rumah itu. Tujuannya hanyalah bercengkrama dengan ibu. Mereka sering menghabiskan hari bersama di rumah, makan masakan ibu. Ah, sungguh baik sekali hati Dhiba. Dia bisa menyayangi ibu tanpa dirinya meminta.
Fattah pun masih tak percaya. Ibu adalah wanita yang begitu tegas padanya selama ini, mampu berduka atas kematian seseorang yang bahkan belum dikenalnya. Apalagi bertemu dengannya. Fattah mengingat setiap tetes sendu yang diutarakan pada gadis itu atas kematian ibunya. Meski hanya lewat ujung telepon rumahan, karena tak mungkin bagi ibu untuk menemui Dhiba.
Tak pernah terpikirkan oleh Fattah bahwa Ibu akan sangat menyayangi Dhiba sedalam ini. Terlepas dari rasa kehilangan anak perempuannya sebelum dilahirkan dulu. Fattah sangat mengenal Ibu. Fattah tak sanggup memikirkan bagaimana perasaan beliau saat tahu bahwa kini antara dirinya dan Dhiba tak ada lagi hubungan apapun.
"arghh... aku tak pernah sanggup menerima sikap keluarga Dhiba, apa itu tarbiyah? kenapa melamar saja susah," Fattah gusar mengusap kepalanya.
Sungguh hari ini rasanya melelahkan sekali memikirkan Dhiba, walau raga ini belum beranjak kemanapun. Berpikir tentang syarat yang sepertinya mustahil untuk dilakukan. Hatinya kesal berkecamuk dengan gelisah takut akan kehilangan. Tapi juga tak tahu harus berbuat apa untuk tetap bisa mencintainya.
'bip'
Fattah meraih handphone diatas meja kecil sebelah tempat tidur dengan malas. Ada pesan masuk, dari Siska.
[lg apa?]
[ketemuan yuk, cuti kan?]
[Kok tahu?]
[Motormu ada di kosan pasti cuti, hehe]
[Oh]
[yok, jam 2 ditempat biasa]
[oke]
Fattah pun bergegas mandi dan beranjak untuk sholat dzuhur di masjid. Sesampai di kosan, Ia merapikan berkas kerja yang semalam dibawa untuk dikerjakan, meski kenyataanya tak sempat. Tak berselang lama, Fattah pun bersiap diri untuk bertemu Siska.
*****
"Fattah, kenalin Hana, dan Hana ini Fattah", ujar Siska membuka pertemuan hari ini.
"Fattah, Salam kenal", kata Fattah.
"Hana", ujar wanita yang duduk bersebelahan dengan Siska.
****
Setelah beberapa pekan tak lagi berkomunikasi dengan Fattah, Dhiba masih tak bersemangat keluar kosan untuk sejenak bersenang-dengan dengan teman-teman di kampusnya. Entah kenapa ia kali ini Ia lebih sering berada di kamar, memikirkan Fattah. Lelaki yang sudah empat tahun lamanya mengisi hari-harinya dan kini tak ada lagi di dalam dunianya. Lelaki itu entah kemana saat ini. Lama menghilang tanpa kata pamit. Padahal dulu ia berjanji akan menggenggam tangannya, mendatangi keluarganya meminta dengan baik.
Masih jelas dalam ingatan Dhiba, terakhir kali Ia mengutarakan "syarat" dari keluarga besar padanya. Setelah itu, Fattah menghilang, Ia hanya mengungkapkan bahwa tak mungkin memenuhinya dan hanya sekali berkata mengiyakan untuk mengakhiri hubungan yang sudah lama terjalin. Semudah itu menurut Dhiba. Entah apa alasan Fattah, yang pasti Dhiba pun tak tahu dan mencari lebih jauh.
Beribu tanya dalam diri Dhiba tentang Fattah yang tak kunjung ia pahami seorang diri. Semua Abang kini telah mengenalnya. Hanya Mami saja yang tak sempat mengenal Fattah secara langsung karena sakit, lalu tak lama Mami tiada. Memang tak ada sikap manis yang ditunjukkan Abang saat Ia berkunjung ke rumah. Karena di keluarganya tak akan pernah diakui jika belum ada ikatan sah.
*****
Pilihan Sulit itu bernama ikhlas
Tangan Dhiba asyik berselancar di dunia maya. Facebook lagi ngetrend saat ini menggantikan friendster. Lebih mudah mencari seseorang hanya dengan menuliskan namanya.
'deg'
Hatinya mendadak bergemuruh dengan hebat. Ada nafas yang tertahan di sana, menyebabkan sesak tak terkira. Dhiba mencoba tenang dan melihat dengan seksama. Berulangkali 'scroll' ke atas lalu kebawah memastikan benar apa yang baru saja dilihatnya. Kalau saja itu benar, maka mungkin inilah jawaban dari-Nya untuk kehidupan yg tengah ia jalani.
Jelas terpampang status yg ditulis akun tersebut adalah 'In a relationship' pada laman profil facebook yg pasti Dhiba mengenalnya. Belum lama Dhiba yakin tak ada tulisan tersebut. Namun bila sekarang ada, maka dipastikan itu bukan dengan dirinya. Apalagi tak ada keterangan dengan siapa hubungan yg dimaksud. Tapi akhirnya, Dhiba menemukan satu foto sepasang perempuan yg sengaja di unggah di sana. Mungkin salah satu dari wanita itu adalah, ya kekasih baru Fattah.
Ada luka yang kembali menganga, bagai tersiram air asam pada luka sebelumnya yang pastinya belum juga kering. Dhiba termenung menatap akun facebook itu dengan perasaan pedih. Semudah itukah Fattah melupakannya, setelah bertahun-tahun terjalin kisah bersamanya. Tak adakah lagi tersisa dirinya dalam hati Fattah? Hanya kalimat-kalimat tanya itu yang melayang memenuhi pikiran Dhiba. Hingga tak terasa Ia terlelap dalam pilu yang mendalam.
*****
Tak Tergoyah
Siang hari ini Dhiba disibukkan dengan kunjungan ke sebuah sekolah tempat Ia dan beberapa temannya diberikan tugas untuk mengobservasi kegiatan belajar mengajar. Dhiba kini sudah semangat lagi, karena tuntutan perkuliahan yang semakin banyak membuatnya tenggelam di dalam tugas-tugas dan tak pernah lagi memikirkan Fattah. Hingga senja menjelang saat Dhiba berkemas akan pulang, sebuah pesan singkat masuk dalam telepon genggamnya..
[Assalamualaikum.. apa kabar Nak Dhiba? Semoga sehat walafiat. Maaf ibu lama tak ada kabar. Tapi bisakah ibu minta tolong? Bisakah Dhiba kembali pada Fattah? Ibu mau Fattah mendapatkan jodoh dari kota yg sama. Ibu tak bisa berjauhan dengannya kelak. Sebelum janur kuning melengkung, sebelum cincin melingkar di jari manis. Berusahalah dulu Nak,tak ada yang salah. Belum terlambat.]
Sejenak Dhiba terkejut dengan isi pesan itu. Tak dipungkiri hatinya bersorak gembira melihat Ibu Fattah masih mengharapkan dirinya. Tapi Ia tahu diri, tak pantas jadi pengganggu suatu hubungan ataupun sampai menjadi perebut kekasih orang lain. Itu jelas bukan dirinya. Dhiba masih ingat, saat terakhir kali Ia memaksakan dirinya menghubungi Fattah terlebih dahulu setelah sekian lama tak ada komunikasi. Dirinya semakin sakit dengan jawaban yang diberikan oleh Fattah. Dhiba ingat, itu adalah lima tahun hari bersejarah untuknya dan Fattah. Tapi justru dilima tahun itu Dhiba harus benar-benar ikhlas melepaskan Fattah.
"Dhiba cari saja laki-laki lain yang bisa memenuhi syarat dan sesuai dengan kriteria keluarga Dhiba, maaf abang sedang sibuk, sudah dulu ya,"
Begitulah terakhir kali kalimat yang Dhiba dengar dari ujung telepon yang diucapkan oleh Fattah. Telepon pun terputus bersamaan dengan suara seorang wanita 'siapa?'. Dhiba telah kehilangan Fattah Dan hanya ikhlas satu-satunya cara untuk menerima keadaan. Belakangan Dhiba pun tahu bahwa kekasih baru Fattah adalah Hana, sahabat Siska.
Tersadar dari lamunan panjang yang menyakitkan, Dhiba segera membalas pesan singkat dari Ibu Fattah.
[Mohon maaf bu, Dhiba tidak bisa memaksa abang untuk kembali bersama Dhiba. Abang sudah sangat sayang pada kekasihnya. Dhiba tidak mau bu menjadi perusak kebahagiaan abang. Mohon maaf ibu, Dhiba sayang Ibu.]
Tak Ada kembali balasan dari Ibu Fattah atas sikap Dhiba.
*****
JODOH, Milik Tuhan semata
Beberapa bulan kemudian...
Ibu Fattah memberikan kabar bahwa Fattah akan melangsungkan pernikahan. Saat mendengar kabar tersebut, Dhiba sudah merasa biasa saja, Tak Ada lagi rasa sakit dihatinya. Rasa yang dulu untuk Fattah memang tidak sepenuhnya hilang, bisa jadi tersisa 1% saja yang berisi kenangan hampa, karena bagaimanapun, Fattah pernah mengisi hari-harinya.
Dhiba meminta izin untuk turut hadir pada acara tersebut, namun ibu Fattah melarang. Selain lokasi yang ditempuh cukup sulit, ibu khawatir Dhiba akan sedih. Begitulah menurut penuturan ibu pada sambungan teleponnya. Akhirnya, Dhiba mengalah dan menitipkan salam untuk Fattah juga istri serta mendoakan kebaikan untuk pernikahan keduanya.
*****
Seuntai puisi tertuang pada laman facebook milik Fattah.
Bukan_Kita!
Andai saja pertemuan itu tak ada
mungkin aku tak perlu sedalam ini mengobati luka
Ingin rasanya aku bisa lupa
melupakan semua kisah yang pernah ada
diantara kita
namun tak pernah jadi milik kita akhirnya
sungguh aku tak mengerti mengapa rasa itu hadir dulu kala
tangan lembutnya masih bisa kurasa saat ku genggam
semerbak harum helaian jilbabnya masih menelisik ke dalam sesaknya nafasku hingga kini
meninggalkanmu dalam diam adalah memang sebuah kesalahan
tapi menjauhimu adalah caraku melupakanmu
berhenti berharap tentangmu
yang sejujurnya belum pernah ku perjuangkan sekalipun
aku merasa rendah
terutama di hadapan keluargamu
apalah aku yang masih jauh diambang batas minimal standar yang kau ajukan
hingga akhirnya aku terpaut kasih berbalas yang lebih menyanjungku
semakin tak ada apapun yang bisa membuat kita kembali
aku memutuskan untuk melepasmu
seumur hidupku
melalui ijab yang aku lantunkan dengan lantang
meski saat latihan aku mengaku terpeleset namamu
tapi dalam masa depanku
tentu sudah tak ada kamu
hanya aku dan dia
keluarga baruku
selamat tinggal
masa laluku
-TAMAT-
Catatan :
Seberapa lama kita menjalin hubungan dengan seseorang, jika ia bukan jodoh kita maka tetap tak akan bersanding bersama. Itulah mengapa hubungan tanpa status yang jelas dan sah dimata Tuhan dilarang. Selain tidak menundukkan pandangan yang bisa saja akhirnya melampaui batas, tentu juga merugikan waktu dan sebagian besar pikiran kita. Belum lagi jika kelak kenangan bersamanya akalan terus menghantui kehidupan kita di masa mendatang. Jadi, semoga kisah ini BUKAN_KITA! yang menjadi lakonnya, juga tidak untuk keturunan kita berikutnya.
Terima kasih untuk yang sudah meluangkan waktu mampir di tulisan author abal² 😁
Semoga beneran ada hikmah yang bisa dipetik meski hanya secuil ya. Sampai bertemu pada kisah lainnya. 🥰