Search This Blog

Showing posts with label parenting tips. Show all posts
Showing posts with label parenting tips. Show all posts

Monday, February 28, 2022

Hamil Ketiga yang diRencanakan

Kehamilan adalah perencanaan bersama antara suami istri. Bukan atas dasar keinginan pribadi atau sepihak. Oleh karenanya, setiap ibu hamil harus memiliki support system yang satu visi misi sama selama kehamilan bahkan sampai melahirkan. Dukungan bukan hanya sekedar kata-kata maupun materi tetapi melingkupi semua yang dibutuhkan ibu selama 9 bulan masa kehamilan.

Tidak ada kehamilan tanpa rencana, selama hubungan suami isteri berjalan dengan baik dan dilakukan secara sadar maka jika akhirnya terjadi kehamilan itu sebuah anugerah yang patut disyukuri. Setiap ruh yang ditiupkan pada janin oleh Allah SWT dalam perut seorang perempuan, itu artinya ia dipercaya mampu menjaga, merawat dan membimbing seorang anak.





Saya memutuskan untuk memiliki anak ketiga dengan niat pertama melakukan tindakan melepas alat kontrasepsi IUD pada bulan November 2019. Karena berpikir sudah mwncapai masanya IUD dilepas setelah 5 tahun bersama. Alhamdulillah selang 5 bulan setelah melepas IUD, saya kembali hamil.

Setiap kehamilan ada tantangan tersendiri. Meskipun terbilang sudah hamil 2 kali sebelumnya, namun kehamilan ketiga ini seperti kembali hamil pertama. Pasalnya, saya tidak pernah merasa seberat ini saat hamil. Mulai dari mual, muntah, tidak berselera makan apapun, sembelit hingga sakit nyeri sendi dan tulang di beberapa bagian tubuh. Bahkan menjelang trimester akhir, rasanya sulit untuk bisa tidur dengan nyenyak.

itulah mengapa ibu hamil tidak hanya membutuhkan asupan gisi yang komplit guna memenuhi kebutuhan janin, tapi juga dukungan moril untuk menjaga perasaan dan mental si ibu agar tetap dalam kondisi bahagia. Tapi namanya manusia, pasti tidak terlepas dari rasa yang kurang menyenagkan seperti sedih dan kecewa. Karena itu, ibu hamil juga perlu mendekatkan diri lebih dekat lagi kepada Allah SWT agar selalu terlindungi dari hal-hal buruk yang tidak diingini.

Menjalani kehamilan ketiga dengan lancar meski beberapa keluhan seperti yang telah diceritakan sebelumnya adalah hal yang wajar. Mungkin sebagian besar ibu hamil memiliki keluhannya masing-masing. Persiapan kelahiran pun sudah dipikirkan saat hamil, mengingat ini adalah kehamilan ketiga pasca dua kehamilan dengan kelahiran secar sebelumnya. Banyak kekhawatiran yang terlalu dipikirkan sehingga saya kurang rileks selama trimester akhir menjelang kelahiran. Walau bagaimanapun, apapun pilihan metode kelahiran tetap harus dilalui dengan mental yang kuat.

Kehamilan ketiga artinya menjadikan anak pertama sebagai seorang kakak dengan dua adik dan anak tengah menjadi seorang kakak dengan satu adik. Agar anak-anak memahami bahwa kasih sayang orang tua tidak akan berkurang meski ada tambahan anggota baru, saya selalu mendekatkan mereka meski adiknya masih dalam kandungan. Caranya dengan mengajak mengobrol bersama, diskusi bersama, dan memberikan kesempatan kedua kakaknya untuk menyalurkan rasa sayang terhadap sang adik dalam perut.

Begitu banyaknya kebutuhan selama hamil mulai dari kondisi ibu baik secara fisik maupun psikis, persiapan melahirkan, lingkungan keluarga inti yang saling mendukung, dan masing-masing anggota keluarga yang perlu diberikan pemahaman bahwa bertambahnya anggota keluarga merupakan kebahagiaan bersama.

Semangat untuk semua ibu hamil di manapun berada, semoga Allah SWT mudahkan dan mampukan setiap tantangan dengan hadirnya rasa sabar yang besar.

Barakallahufiikum.

Sunday, February 7, 2021

MENDONGKRAK MINAT BACA ANAK DENGAN MENDONGENG

Apa itu minat?

Sebelum berbicara tentang minat baca, ada baiknya jika kita menyamakan persepsi tentang minat terlebih dahulu. Pengertian minat dalam kamus besar bahasa indonesia diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Bisa diartikan juga keinginan atau gairah. 

Witheringtone dalam buku manajemen penelitian dengan penulis Suharsimi Arikunto mengemukakan bahwa minat adalah kesadaran seseorang bahwa suatu objek, seseorang, suatu soal atau suatu situasi yang mengandung sangkut paut dengan dirinya.

Berdasarkan bebrapa pengertian tersebut dapat dideskripsikan minat sebagai sumber motivasi untuk melakukan apa yang sudah menjadi keinginan, pilihan, perhatian, dan hal tersebut menimbulkan suatu kesenangan dan kepuasan ketika melakukan hal yang diminati.

Seseorang yang sudah memiliki minat akan berusaha untuk mewujudkan suatu aktivitas yang sudah menjadi minatnya. Aktivitas yang diminati akan menjadi sebuah kesenangan tanpa ada rasa bosan meskipun dilakukan secara berulang. Ketika minat sudah muncul maka akan sangat sulit menghilangkannya karena sifat dari minat yaitu tetap.

Pengertian minat baca

Minat baca artinya memiliki kecenderungan untuk selalu membaca, suka membaca dimanapun berada meski dalam kondisi yang beragam. Banyak faktor yang bisa menumbuhkan minat baca anak-anak, salah satunya adalah dengan memfasilitasi mereka dengan berbagai macam jenis buku sesuai dengan usia. Buku yang beragam tersebut dapat menjadi stimulus rasa penasaran mereka. Berawal dari seringnya anak-anak membolak-balik halaman buku tersebut besar kemungkinan bisa menumbuhkan minat baca.

membacakan cerita

Dongeng adalah salah satu metode yang bisa dilakukan oleh orang tua saat di rumah. Tidak perlu menggunakan teknik seperti ahli pendonegng, cukup perhatikan intonasi dan ekspresi dengan tepat, maka dongeng bisa dilakukan.  Media dongeng tentu saja beragam, namun jika ingin menstimulasi minat baca anak, sebaiknya gunakan buku. Berikan anak pilihan beberapa buku untuk dibacakan menggunakan metode dongeng oleh orang tua. Mengapa harus buku pilihan anak? Tentu agar anak-anak antusias mendengarkan karena rasa penasarannya.

Berikut beberapa yang harus diperhatikan saat mendongeng menggunakan buku :

1. Memilih waktu yang tepat, sebaiknya tidak saat akan tidur karena menggunakan buku.

2. Atur posisi nyaman anak dan orang tua. Disarankan untuk duduk, bisa berhadapan, melingkar, atau anak duduk dipangkuan.

3. Biasakan dimulai dari membaca judul, mengenalkan penulis, ilustrator dan penerbit yang tercantum di buku tersebut agar anak-anak mengenal bahwa buku ini hadir karena ada penulis, ada yang membuat gambar-gambar menarik. dan penerbit yang menyetak buku tersebut sehingga layak diperjual belikan.

4. Gunakan ekspresi yang berbeda sesuai dengan tokoh yang diperankan. Sesekali tidak mengapa menunjukkan ekspresi tersebut dengan menunjukkan tokoh yang dimaksud dalam buku.

5. Mainkan intonasi berdasarkan kondisi tokoh atau lingkungan yang digambarkan dalam buku cerita tersebut. Adakalanya intonasi rendah dan tinggi atau berbisik bisa disesuaikan.

6. Jangan lupakan jika membacakan anak buku cerita menggunakan metode mendongeng tetap tunjuk kata per kata yang sedang dibaca menggunakan telunjuk.

7. Buka halaman demi halaman dengan santai dan tidak melepaskan diri dari cerita yang tengah dibacakan. Misalnya bisa dengan menambahkan kalimat sendiri, "wah apa yang terjadi?" (sambil membuka halaman berikutnya).

8. Usahakan konsisten menjalankan setiap poin yang sudah disampaikan setiap membacakan anak buku cerita.

Proses ini memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Stimulasi dari orang tua dalam menumbuhkan minat baca anak perlu didukung oleh faktor seberapa besar komitmen dan konsisten yang bisa orang tua melakukan metode ini.  Selamat mencoba!

-sA-

Tuesday, November 24, 2020

Parenting Tips 5 "Menjadi Teladan Anak"

Orangtua sebaik-baik TELADAN bagi Anak


Predikat "orang tua" tak hanya siap memenuhi kebutuhan pertumbuhan anak, melainkan wajib menyentuh aspek perkembangan anak. Bentuk tanggung jawab orang tua melingkupi seluruh hal yang dibutuhkan oleh anak. Salah satunya adalah sikap. perilaku, atau tindakan. Pengalaman perilaku paling mudah didapatkan dari orangtua sekaligus yang pertama juga utama. Sikap seorang anak kelak dewasa bisa jadi lebih banyak didominasi turunan orangtua. Oleh karena itu, orang tua penting menjaga perilaku di depan seorang anak. Tanpa disadari kelak anak akan mempraktekannya terhadap situasi dunia yang dihadapinya.






Berikut tips singkat yang bisa orang tua praktikkan di rumah :

 

1. Jaga rasa sedihmu, biarlah hanya diri yang tahu

Sedih adalah perasaan yang wajar, normal dirasakan bagi siapapun juga. Tak terkecuali para ibu. Namun, alangkah bijaknya bila seorang ibu menyalurkan rasa sedih tidak di hadapan sang anak. Apalagi jika perasaan itu tak ada hubungannya dengan sang anak. Ada saatnya mengungkapkan rasa sedih bersama anak untuk suatu kondisi tertentu, namun tetap sikapilah rasa sedih itu dengan benar. Ada juga kalanya ibu perlu untuk tidak menunjukkan rasa sedih di depan anak.

 

2. Jaga amarahmu, luapkan dengan mengucapkan istighfar

Saat ingin meluapkan rasa marah, segeralah berucap istighfar (bagi muslim) atau bisa disiasati dengan mengatur nafas, menghitung 1-10, dan menyendiri. Carilah hal lain yang bisa mengalihkan sebentar saja rasa marah agar dapat dikelola dengan lebih bijak. Marah di hadapan anak seperti melukai masa kecilnya dan bisa saja luka itu akan terus terbawa hingga ia dewasa. Bahkan perilaku marah itu bisa diadopsi oleh anak dan diwujudkannya saat ia juga tengan merasakan hal yang sama. Marah juga termasuk perasaan yang wajar, namun, mengelola marah bisa membantu anak untuk mengatasi emosinya juga.

3. Ganti segera kata ataupun kalimat negatif menjadi positif

Pernahkah berpikir bahwa perkataan orang tua tidak hanya akan ditiru oleh anak, melainkan bisa menjadi doa bagi seorang anak. Tentunya setiap orang tua menginginkan yang terbaik dalam semua hal untuk sang anak, namun satu aja kalimat negatif yang terucap bisa melukai anak, mencederai hatinya yang tidak bisa disembuhkan untuk waktu yang sebentar. Sama seperti saat seseorang menancapkan paku di dinding atau kayu, ketika paku tersebut dilepas maka bekasnya masih ada.

4. Buatlah sebuah tulisan perilaku negatif yang belum bisa diubah

Langkah ini hanya sebagai upaya agar orang tua bisa mengidentifikasi lebih detail lagi tentang perilakunya. Terkadang mungkin saja ada yang terlewat atau tidak menyadari saat kondisi tidak menyenangkan. Namun, saat keadaan sudah tenang sebaiknya menulislah agar selalu diingat sebagai bahan evaluasi dan lebih tepat sasaran untuk diubah.

5. Berikan tenggat waktu kapan mau berubah
Setiap perubahan butuh proses dan waktu yang bisa jadi setiap orang berbeda. Untuk itu, perlunya membuat tenggat waktu agar perubahan itu lebih terarah dan tidak tertunda dengan berbagai alasan.

6. Apresiasi dan punishment
Berikan apresiasi diri jika berhasil berubah dan hukuman yang telah dibuat sebelum proses mengubah perilaku itu berjalan. Hal ini untuk memotivasi agar tujuan lebih mudah tercapai dengan maksimal.

7. Evaluasi
Evaluasi tidak hanya untuk perilaku negatif atau perubahan yang belum berhasil dilakukan, namun juga termasuk perubahan perilaku yang telah berhasil dicapai. Sehingga bisa dibandingkan indikator dari keberhasilan itu apa saja yang telah dilakukan, begitupun sebaliknya.

8. Pelajari perubahan kelurga setelah diri berubah
Setiap perubahan perilaku diri tentu akan berpengaruh pada lingkungan terdekat seperti keluarga inti. Untuk melihat dampaknya, bisa diraskan sendiri atau mencermati sikap dari anggota keluarga. Jika memungkinkan, tanyakan pada mereka tentang sikap kita selama proses perubahan berjalan.

9. Ambil hikmah dan ulangi sampai perilaku negatif itu pergi
Konsisten terhadap perilaku positif yang sudah berhasil dilakukan, ulangi setiap saat dibutuhkan dalam kondisi apapun, terutama saat emosi tidak stabil.

Semangattt!!!! 💪

-sA-


Friday, October 30, 2020

Parenting Tips 4 "Butuh" VS "Ingin"

Mengenal Antara Kebutuhan dengan Keinginan

gambar oleh khamasa

Penting sekali cermat dan cerdas dalam memilah “kebutuhan” dan “keinginan”. Wanita kebanyakan memiliki hobi belanja, saya juga termasuk itu “dulu", apalagi kalau sudah lihat buku 😍 (lihat aja skripsiku tentang minat baca, mau ga mau koleksi buku cerita seabreg, tapi Alhamdulillah sekarang bermanfaat untuk anak-anak, yaa walaupun ada yang korban dirobek, dicoret, its okey, mereka belajar 😂). Karena saya lagi teracuni dengan kalimat “yang penting bukan sekolah atau tidak sekolah tetapi belajar atau tidak belajar). kamu tahu bedanya? Googling sendiri ya, karena saya belum mumpuni untuk membahas itu.

Back to topik “kebutuhan vs keinginan”.

Saya belajar banyak tentang ini dari saudara kandung yang sukses keduanya bersama keluarga masing-masing tapi tampilannya sederhana. Bahkan biasa aja, menurut saya. Intinya, saya belajar bahwa berapapun jumlah yang saya terima, saya bijak. karena akan sulit bila kita terus memenuhi keranjang belanja setiap ada nominal. Setelahnya semua nominal itu akan kembali semula, rugi dong.
 

Memang butuh kerja keras membimbing anak-anak yang belum memiliki konsep ini secara konkret. Tapi bukan berarti tidak bisa ditularkan. Karena itu, saya mulai dari diri sendiri. Sebenarnya, kalau saya dan suami memang kurang suka belanja, apalagi dalam bentuk barang yang jelas tidak ada manfaatnya. Tapi terkadang kita suka khilaf pengen beliin yang anak-anak mau padahal mungkin di rumah sudah punya. Sebagai orangtua cenderung ada keinginan lebih bisa memenuhi keinginan anak-anak dibanding yang lain. Tujuannya agar anak nyaman sama kita, tapi ternyata itu salah. Bounding kita dengan anak bukan melalui benda, percaya deh itu hanya akan bertahan sebentar saja dan selebihnya akan ada permintaan-permintaan lainnya. Sebenarnya anak belajar pola kelemahan orang tua, kecenderungan orang tua yang bisa menguntungkan dirinya secara tidak langsung.

So, gimana nih solusinya?
 

Yuk kita harus belajar konsepnya dulu secara sederhana. Misal anak minta beli barang (mainan), tanyakan padanya :

*sudah punya belum (yang serupa) di rumah?

*untuk apa membeli itu?

*akan digunakan berapa lama?

*bagaimana dengan mainan yang sudah dimiliki di rumah?
 

Ini hanya contoh pertanyaan-pertanyaan yang sederhana dan sangat memungkinkan untuk dikembangkan sendiri tergantung situasi. Tentunya diskusi ini sebaiknya dilakukan di rumah. Bicarakan dari hati ke hati (bisa sambil memeluk si anak).

Susah? Mungkin saja. Apalagi untuk pemula. Tapi daripada terlambat, Tidak ada salahnya bila dicoba. Jangan sampai kelak anak-anak sudah dewasa punya pola pikir “ya sudah beli saja dulu mumpung ada uang, entah buat apa, entah disimpan di mana yang penting beli dulu”. NO!! Ini salah. Akan lebih susah bila kebiasaan ini terjadi pada anak-anak yang sudah dewasa. 

Untuk itu, masa emas tidak akan terulang. Maka mulailah dari sekarang untuk lebih cermat dan bijak tentang “mana yang butuh dan mana yang sekedar ingin".
Saya juga saat baru menerapkan ini kadang hati ini masih kecolongan menuruti maunya anak. Mulai itu memang berat, tapi lebih berat lagi untuk konsisten.


Tetap semangattt… 💪

-sA-


Wednesday, October 21, 2020

Parenting Tips 3 "Membangun Kepercayaan"

 

Anak-anak selamanya tidak bisa diawasi oleh orang tua di segala aspek rutinitasnya. Apalagi semakin lama, anak akan tumbuh besar dan pasti suatu saat akan memiliki lingkungan bermain bersama teman-temannya. Sebagai orang tua, menaruh kepercayaan tentu sangat diperlukan mengingat bahwa anak kelak akan mengemban tanggung jawab dengan modal kepercayaan.

Lalu bagaimana cara membangun kepercayaan antar orangtua dan Anak?

1. Berikan anak sebuah tanggung jawab, bisa berupa pekerjaan rumah. Contoh bagi anak usia dini “merapikan mainan setelah selesai bermain”.

2. Buatlah sebuah tujuan sederhana mengapa hal itu perlu dilakukan yang merujuk pada keuntungan kedua belah pihak. Mengapa? agar anak pun merasakan manfaat atau akibat yang baik dari aktivitas yang dikerjakannya.

(Misal: mainan yang rapih dan dijaga akan awet untuk dimainkan jangka waktu lebih lama serta rumah yang bersih akan jauh dari penyakit).

3. Buatlah aturan secara rnci jika diperlukan. Misalnya, pembagian tugas antara kakak dan adik agar merasa dibagi dengan adil.

4. Konsekuensi pelanggaran bila tidak sesuai harus disepakati diawal bersamaan dengan perjanjian sebelumnya.


5. Mengingatkan anak akan tanggung jawab tadi bisa 5 menit setelah anak merasa lelah dan seperti akan meninggalkan mainannya atau bila ada jam bermain maka 5 menit sebelum permainan berakhir.


6. Lakukan pembicaraan mengenai tanggung jawab tersebut lebih sering atau terjadwal. Tujuannya agar tertanam dalam diri anak kelak. Misal waktu-waktu sebelum tidur bisa juga sembari bercerita santai.


7. Berikan anak surprise reward apabila tanggung jawabnya terlaksana dengan tepat. Surprise reward tidak harus berupa benda. Lebih bagus bila berupa ucapan pujian. Ingat sertakan kata “MasyaAllah atau Tabarakallah” setiap kali memuji anak. Sebab hanya dengan kuasa Allah SWT lah anak mampu melakukannya dengan baik. Namun, tetap kembali pada bahasa cinta anak untuk mengapresiasi atas usaha yang telah dilakukan. Kenali bahasa cinta mereka agar surprise reward yang diberikan dapat dirasakan juga oleh mereka.


-sA-


Saturday, October 17, 2020

Parenting Tips 2


 
 
Management Gadget for Kids

Ketika teknologi semakin canggih seiring dengan pemanfaatan gadget yang juga meningkat. Apalagi di masa sekarang di mana kegiatan belajar lebih banyak dihabiskan secara online.

Bagaimana mengatasi anak yang semakin kecanduan dengan gadget. Berikut tips yang bisa diaplikasikan :

  1. Saat anak mau pinjam HP orangtua atau siapapun, biasakan untuk izin terlebih dahulu.

     

  2. Setelah izin diberikan, buatlah kesepakatan atau syarat misalnya "NO Youtube" & "NO Playstore". Jika anak belum memahami, maka berikan HP tanpa koneksi Internet.

     

  3. Kesepakatan juga termasuk untuk membatasi (semacam membuat perjanjian) apabila yang punya HP sudah mau pakai lagi, berarti habis waktunya atau berikan kesepakatan waktu diawal misalnya cukup 20 menit. Tunjukkan waktu yang disepakati pada anak, bisa menggunakan stopwatch atau jam langsung. Jika anak belum paham, cukup konsisten saja lakukan nanti akan terbiasa dan paham dengan sendirinya.

     

  4. Anak-anak tetap butuh pengawasan dari orangtua(sesekali lihatlah apa yang sedang anak lakukan dengan gadget yang diberikan). Kenapa hanya sesekali? Ini salah satu upaya untuk membangun kepercayaan diantara anak & orangtua.

     

  5. Informasikan pada anak 5 menit sebelum waktunya benar-benar habis. Pengingat ini dimaksudkan agar anak tidak terlalu kaget kkalau waktunya sudah habis.

     

  6. Jika anak kooperatif dan mematuhi perjanjian bersama tadi, maka beri dia pujian dan semangat bahwa dia sudah melakukannya dengan sangat baik. Jika diperlukan, berilah Ia sesekali hadiah atau kejutan.

     

  7. Sebaiknya selalu ingetkan anak, hal ini berlaku untuk gadget atau HP lainnya (baik punya ayahnya, sepupu, tante, om, nenek, dan lain-lain).

     

  8. Jelaskan kenapa penggunaan HP khususnya yang tersambung dengan internet itu dibatasi. Bisa dijelaskan dari sisi medis, kebaikan, keburukan, dan lain-lain. Gunakan penjelasan yang paling sederhana dan mudah dimengerti anak. penjelasan tersebut bisa didukung dengan gambar atau media lainnya.


  9. Beri penegrtian bahwa anggota tubuh yang anak-anak miliki adalah pemberian dari Allah SWT. yg harus dijaga. Contohnya mata, yang sebaiknya tidak menatap layar HP terlalu lama. Percakapan sederhananya :

    “Kakak mau disayang Allah?” Maka sayangi apa yg sudah Allah berikan untuk kakak, jaga & gunakan itu dengan benar.” 

     


  10. Ingetkan juga tentang Allah SWT yang selalu melihat anak, ada malaikat Rakib dan A’tid yang siap mencatat perilakunya (baik/buruk).

     

    Walau sepertinya sulit, lakukan saja. Karena kosnisten akan mebuahkan hasil yang maksimal suatu hari. Percayalah bahwa anak tidak selamanya bisa kita genggam pikirannya. Kita juga tidak bisa mengontrol teknologi dan yang orang lain lakukan terhadap anak-anak kita. Tidak selamanya pengawasan berada di depan mata kita. Pada akhirnya kita harus rajin sounding ke anak, mengarahkan dia, membimbing dia, dan terakhir tawakal sama pemiliknya. berdoa & berharap penjagaan dari-Nya..

     

    Barakallahufiikum...

     

    -sA-

     

Parenting Tips 1









Pernahkah kita memarahi anak lantas memandanginya

dengan penuh penyesalan yang berujung pada permintaan maaf kita saat mereka tengah terlelap?

Dengan penuh kesadaran kita pun memeluknya, menciumnya, seraya berjanji tak akan terulang.

Namun apa yang terjadi?

Dengan disadari atau tidak kita mengulanginya.

Lalu berlanjut permintaan maaf sama seperti adegan sebelumnya.

Pernahkah rasanya seperti hanya bola yang bergulir tanpa henti?

Tanpa tahu apa yang seharusnya dilakukan.

Tanpa tahu harus memulai dengan apa untuk tidak terjebak dengan masalah yang sama.

Sudahkah kita menapak tilas perjalanan hidup di dunia ini?

Apa saja yang telah terjadi dan dialami oleh diri kita sendiri?

Mungkin penyebabnya ada di beberapa bagian masa lalu kita.


Ayo kita selesaikan!

Tuntaskan!


Berdamailah dengan masa lalu agar dapat kau genggam masa depanmu.

Pasrahkan semua hal yang mengganjal ataupun menyesakkan itu di tiap-tiap sujud kita kepada-Nya.


Sederhana bukan?


Terkadang sebelum mengkaji lebih dalam sumber dari setiap permasalahan yang berkaitan dengan emosi pada anak, adakalanya perlu untuk menginteropeksi diri, mengenali diri lebih jauh, agar apapaun goresan yang mungkin terjadi pada masa kecil sudah selesai dan bisa diterima sehingga tidak menganggu pola didik kita saat ini terhadap anak-anak.


-sA-


Terlahir dengan Takdir Berbeda