Search This Blog

Wednesday, November 20, 2019

CERBUNG . . . BUKAN KITA!

PART 1 

Aku

Laki-laki putih, tinggi semampai, mandiri, pekerja keras, mapan adalah sebagian kecil dari tipe ideal bagi perempuan. Dia bernama Fattah. Seorang mahasiswa tingkat akhir program sarjana di salah satu universitas swasta yang terletak di kota Yogyakarta. Fattah berasal dari Jawa Barat, lebih tepatnya Bandung. Sebagai mahasiswa yang kini memasuki semester akhir tentu kesibukannya hanya sebatas dengan penyusunan skripsi.

Ia adalah lelaki mandiri meski kuliah tetap berjalan dengan lancar. Terbukti Fattah bekerja juga di salah satu rumah makan sebagai pelayan serta tak sungkan menjadi agen pulsa online. Alhamdulillah hasil yang didapat cukup lumayan untuk menambah uang saku. Walau sebenarnya belum bisa sepenuhnya terlepas dari bantuan orangtua.

Selama dua pekan Fattah pulang kampung, menghabiskan liburan pertengahan semester di Bandung. Waktu lengang seperti ini lebih banyak dihabiskan bersama teman-temannya di malam hari. Mereka biasa nongkrong di cafe atau warung-warung kopi murah sekitar rumah. Maklumlah sekumpulan anak kuliahan yang masih bergantung pada aliran dana orangtua. Tapi alhamdulillah mereka tak pernah sekalipun menyentuh obat-obat terlarang apapun jenisnya. Satu kali kelalaian di malam naas itu menghabiskan rokok dan miras, langsung dibayar tunai oleh Allah SWT yang membuat mereka jera tak ingin mengulanginya lagi.

*****

"Allahu Akbar Allahu Akbar..."

Suara adzan subuh sayup-sayup terdengar dari mushola dekat rumah. Seperti biasa Fattah langsung beranjak untuk menunaikan panggilan itu. Sedari kecil Ia sudah terbiasa pergi ke musholla subuh hari seorang diri karena seringkali bapak ada urusan yang membuatnya berangkat dini hari. Hembusan angin dingin pagi ini merasuk tanpa ampun ke dalam tubuhnya. Siraman air wudhu seakan menginginkan raga merangkak semangat untuk membuka mata lebih lebar. Fattah menunaikan kewajiban pada Sang Khalik. Tak terlewat doa ia panjatkan agar semua urusan berjalan lancar tanpa hambatan apapun.

Selesai shalat, Ia segera pulang ke rumah. Ia mendapati Ibu tengah memasak sarapan di dapur. Fattah langsung masuk kamar dan merebahkan diri di atas kasur. Dingin udara di luar membuatnya menarik selimut dan meringkuk. Tiba-tiba ia ingat percakapan saat nongkrong semalam bersama beberapa teman dan sahabat. Salah satu sahabat dekat sejak kecil memberikan sebuah nomor handphone. Tak banyak yang dia bicarakan padanya tentang nomor itu. Hanya saja sahabatnya itu mengatakan "kenalan aja dulu, cantik" tuturnya seolah mengerti tentang selera Fattah soal wanita. Tapi jujur saja, tidak digubrisnya saat itu. Fattah hanya mengatakan "iya" dengan nada yang sedikit malas.

Bergegas Ia mencari dimana kertas itu berada. Mulai dari saku celana, kantong baju, di dalam laci meja, bahkan sampai keluar dari kamar untuk memeriksa bagian dalam jok motor. Namun tak menemukannya juga. "Sudahlah.." batin Fattah mengikhlaskan saja kertas berisi nomor handphone itu hilang. Ia beringsut merebahkan kembali badan yang masih terasa pegal di atas tempat tidur sambil mengingat-ingat rutinitas yang akan dilakukan seharian ini.

*****

Pertemuan Pertama

Ketika sang mentari mulai memperlihatkan sinarnya, Fattah pun bersiap-siap diri untuk membantu pekerjaan rumah dan mengantarkan ibu bekerja. Tak sengaja Ia menemukan secarik kertas yang diberikan oleh sahabatnya semalam di saku jaket. Ragu ia pandangi nomor itu dengan seksama.

"Hmmm... apakah yang dia maksud cantik adalah nomor handphonenya?" kata Fattah pada diri sendiri sambil menatap nomor tersebut. Karena setelah diteliti, ternyata nomornya memang unik. Kini Ia pun mulai penasaran dengan seseorang yang berada dibalik nomor tersebut. Bahkan entah disadari atau tidak mulai mengetik SMS (pesan singkat) padanya. Kebetulan Fattah memang bukan tipe basa-basi dalam berkenalan, maka segera mengenalkan diri dan menyampaikan juga darimana Ia mendapatkan nomor handphone ini. Nah, to the point banget kan.

[Assalamu'alaikum... Hai, salam kenal. Namaku Fattah. kamu Dhiba ya? aku dapat no.hp ini dari teman.]

Tak lama berselang, pesan singkat itu pun berbalas. Bibirnya mengulas senyum menatap balasan pesan pertama itu.

[wa'alaikumsalam. iya, Farah Adhiba. salam kenal]

"Wah, bisa jodoh nih. Huruf depan kami sama, ef (F), hahaha..." pekik Fattah seketika.

[boleh kenalan kan?]

[silahkan. kenapa?]

[katanya kamu cantik]

[makasi.]

[ketemuan yuk hari ini]

[aq sekolah.]

[oke,aq ke sekolah]

*****

Ketika mengantarkan ibu ke sekolah dasar tempatnya mengajar, Fattah langsung berpamitan ijin bekerja di siang hari.

"Bu, kayaknya aku ga bisa jemput ya, ga apa-apa kan?" tanyanya

"iya bang, mau kemana?" selidik ibu.

"biasa Bu, ada kerjaan." jawab Fattah singkat.

"ya sudah, jangan pulang terlalu larut!" perintahnya.

"oke." jawabnya sambil mengulurkan tangan berpamitan pada Ibu. Tak lama Ia melajukan sepeda motor dengan perasaan gembira dan bersemangat karena sudah mendapatkan ijin.

*****

Selepas shalat dzuhur Fattah bersiap-siap. Siang hari ini sangat panas sekali, tapi Ia sudah terlanjur membuat janji dengan seorang siswi SMA. Yap, siswi SMA. Fattah memang sudah mengetahui bahwa Dhiba adalah siswi SMA (Sekolah Menengah Atas). Karena Dhiba adalah teman dari adik sahabat masa kecilnya. Berulang Kali sudah Ia pikirkan dengan sangat matang. 'Aku adalah seorang mahasiswa yang sebentar lagi lulus sebagai seorang sarjana. Lantas kenapa harus siswi SMA yang akan kutemui? Ah, sudahlah yang penting ketemu dulu' batinnya.

*****

Waktu menunjukkan pukul setengah dua, Fattah dengan santai menunggu Dhiba di atas sepeda motor butut milik bapak. Setelan kemeja dan celana jeans dipadukan jaket hitam membuat Ia merasa percaya diri. Sengaja, menunggu persis di depan gerbang agar dengan mudah menemukan Dhiba. Tak lupa berdoa berharap Dhiba juga mau benar-benar datang menemuinya. Fattah sudah mengirimkannya pesan singkat. Ia tulis ciri-cirinya pada gadis itu agar lebih mudah dikanali, mengingat tak hanya Ia laki-laki dengan sepeda motor yang berada di depan sekolah ini. Beberapa kali matanya menelisik ke dalam gerbang sekolah itu, berharap ada langkah-langkah yang akan mendekat ke arahnya.

*****





'Teettttt...tettttttt' bel tanda jam sekolah telah usai.

Hati Fattah mulai berdegup dengan irama tak beraturan saat melihat kerumunan anak-anak sekolah keluar satu per satu dari gerbang. Ia tampak mengatur nafas agar tetap terlihat santai di depan Dhiba nanti.

Tak berapa lama, ada seorang perempuan mungil terlihat sedang mencari seseorang lalu matanya beradu dengan Fattah. Langkah kakinya sedikit dipercepat mengarah semakin mendekat.

"Fattah ya?" tegurnya.

Sejurus Fattah langsung menjawab "iya betul, kamu pasti Dhiba, Farah Adhiba kan?" tebakku. 'cantik', batinku berbisik sendiri.

"iya" begitulah jawabnya singkat.

"ayo kita ngobrol di tempat lain!" ajak Fattah padanya.

Dia hanya tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Lalu mereka langsung berboncengan motor menuju tempat makan yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah Dhiba.

Sesampainya di tempat makan, mereka hanya memesan minuman. Fattah memulai obrolan yang kemudian berlanjut dengan ngobrol santai saling berkenalan satu sama lain. 'Dhiba tidak hanya cantik tapi sepertinya cerdas', begitulah batin Fattah berbicara.

"kamu kelas berapa?" tanya Fattah.

"baru kelas XI (sebelas)" jawab Dhiba.

"oh, sekarang beda ya, kalau jamanku dulu kelas 2." terang Fattah.

Dhiba hanya tersenyum seolah mengerti.

"eh,daritadi ngobrol ga apa apa nih aq panggilnya kamu? kan lumayan jauh beda usia kita." tanya Dhiba.

"iya senyamannya kamu aja". Jawab Fattah santai.

"kamu sekolah apa kuliah?" tanya Dhiba kemudian.

"aku kuliah, di Yogyakarta. Bentar lagi lulus dari S2" jawab Fattah penuh rasa bangga. 'ups, aku ternyata keceplosan salah menyebutkan jenjang studi yang tengah aku tunaikan. Baru bertemu, tapi aku tak sengaja sudah berbohong. Jujur, aku terpesona olehnya saat ini dan hanya ingin terlihat sempurna di matanya' (seperti itulah hatinya membenarkan).

"wah, hebat. kerja juga?" tanya Dhiba lagi.

"iya, itung-itung nambah uang saku." jawab Fattah singkat.

Fattah tak menjelaskan secara rinci tentang pekerjaan apa yang tengah dilakoninya. Ia masih harus berhati-hati jikalau Dhiba nanti menjauh jika telah mengetahui pekerjaannya. Tentu gadis secantik Dhiba pastilah memiliki selera yang di atas rata-rata. Begitulah yang berkecamuk di pikiran Fattah sehingga ia masih menyembunyikan apa pekerjaannya.

*****

Awal perkenalan ini ternyata tidak semulus yang direncanakan, Fattah dan dhiba masih sama-sama canggung. Fattah pun ada pekerjaan yang harus diselesaikan secepatnya. Maka pertemuan mereka hanya berlangsung sekitar 15 menit. Lalu, Fattah menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang. Akhirnya bersama-sama melalui perjalanan tanpa bercakap-cakap. Hanya keramaian jalanan dan panas matahari yang kami nikmati masing-masing. Ketika tiba di persimpangan jalan, mereka memutuskan untuk berpisah karena kebetulan Fattah dan Dhiba berbeda arah.

*****

Selang dua hari kemudian, Fattah memutuskan untuk menemui Dhiba kembali. Mengingat dalam waktu dekat ia harus segera berangkat untuk menyelesaikan kuliah di kota lain. Malam sebelumnya Ia sudah mengirimkan pesan singkat pada Dhiba. Beruntung Dhiba pun mengiyakan ajakan Fattah untuk bertemu.

Seperti biasa Fattah menunggunya tepat di depan gerbang pintu sekolah. Tak lama menunggu, Dhiba akhirnya muncul bersama rekannya yang saat itu juga mereka saling berpisah.

Dhiba lalu melangkah mendekat seraya berkata "sudah lama ya?" tanyanya.

"enggak, baru datang juga." jawab Fattah cepat. "kita makan siang yuk!" ajak Fattah pada Dhiba.

Akhirnya mereka memutuskan untuk makan di sebuah rumah makan. Saat makan mereka pun mengobrol seputar kegiatan sekolah Dhiba dan candaan ringan mulai mengisi percakapan. Walaupun belum akrab, tapi setidaknya Fattah dan Dhiba sudah seperti teman ngobrol selayaknya.

Namun, sepertinya cuaca sedang tidak bersahabat. Karena tiba-tiba langit berubah menjadi mendung menghitam. Dhiba terlihat gelisah dan buru-buru ingin pamit. Segera Fattah menawarkan bantuan untuk mengantarnya pulang. Setelah membayar makanan, mereka langsung bergegas.

Fattah mengendarai motor secepat yang ia bisa. Akan tetapi baru beberapa meter dari rumah makan tadi, hujan langsung turun sangat deras. Mereka terpaksa berteduh di sebuah halte terdekat. Karena Fattah lupa membawa jas hujan, maka pilihannya hanyalah berteduh untuk menghindari guyuran air hujan. Gemuruh riuhnya hujan membuat mereka sejenak terdiam dengan pikiran masing-masing.

*****

Hujan

tetesmu bergemuruh saat senja datang

tak kau hiraukan

hati risau tak dapat melangkah pulang

terselip canggung berselimut merah jambu

merengkuh dalam dekap si jaket hitam kusam

namun penuh makna tak ternilai

nyaman

nyambung

alasan klasik kala itu

membenamkan asa semakin menghujam

larut dalam buaian kasih sepanjang kenangan
*****

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, namun hujan sepertinya tak kunjung juga mereda. Kemudian Dhiba memaksa untuk tetap pulang naik angkutan umum. Tapi lagi-lagi tak ada angkutan umum yang melintas di hadapan mereka. Fattah pun memutuskan untuk mengantarnya pulang. Fattah meminjamkan jaket yang Ia kenakan untuk dipakai oleh Dhiba. Selama perjalanan tak ada obrolan apapun. Mungkin karena hujan yang masih cukup deras sehingga masing-masing lebih memilih diam.

Akhirnya sampai juga di depan rumah Dhiba. Aneh. Dhiba tidak menawarkan Fattah untuk mampir di rumahnya. Karena itu Fattah berpikir untuk segera pulang dan mengganti pakaian yang terlanjur basah. Sebelum Dhiba pamit dan mengembalikan jaket, tanpa basa basi Fattah langsung mengatakan hal serius padanya ditengah hujan yang masih mengguyur tanpa ampun.

"kamu mau ga lebih dekat sama aku?" tanya Fattah.

"maksudnya?" tanya Dhiba kebingungan.

"maukah kamu jadi seseorang yang spesial untukku?" tanya Fattah lagi.

Dhiba hanya diam namun tatapan matanya masih menampakkan kebingungan. Wajarlah, karena mereka baru saja saling mengenal. Tak lama Fattah menggenggam tangannya yang masih memegang jaket dan mengulangi pertanyaannya.

"kamu mau jadi pacarku?" tanya Fattah gemetar karena dingin yang bercampur gugup.

"hmm.. maaf ya nggak bisa jawab sekarang." jawab Dhiba seolah ragukan kesungguhan Fattah.

"ya sudah jaketnya kamu simpan saja dulu, nanti kita ketemu lagi ya?" pinta Fattah melemah pasrah apapun jawabannya nanti.

"iya, oke. aku pamit ya" seru Dhiba sambil berjalan membuka pintu rumahnya.

Fattah berlalu dengan perasaan berkecamuk. Banyak pertanyaan yang kini menghiasi kepalanya.

bersambung....


Terlahir dengan Takdir Berbeda