PART 6
Surprise
Kebersamaan Fattah dan Dhiba seperti layaknya pasangan ldr pada umumnya. Tak ada yang istimewa. Ditambah Fattah sangat sibuk sehingga mereka juga sangat jarang saling mengobrol, apalagi pulsa begitu mahal untuk ukuran kantong mereka. Sesekali mereka saling melepas rindu hanya lewat pesan singkat, sms. Sampai waktu 6 bulan berlalu begitu saja tanpa terasa mereka telah menjalin asmara.
*****
‘dreeetttdreeett’
Hp Dhiba bergetar tanpa nada suara karena masih jam belajar sekolah. Sebuah pesan singkat masuk. Dari Fattah.
[lagi dmn Yang?]
Sebuah senyum menyungging memerah di pipinya.
[Sekolah]
Jawab Dhiba singkat.
[Aku pulang nih. Masih di Kereta]
[Wah, beneran?]
Tanya Dhiba penasaran bercampur senang dan kaget.
[Ngapain aku boong. Masih jauh nih, baru naik. Jangan kangen dulu Yang. Hehe]
[Nggak.. 😏]
[Ketemuan besok ya Yang]
[Liat besok, sudah ya mau pulang dulu]
Jawab Dhiba secepatnya karena bel pulang sekolah sudah berbunyi.
*****
Dhiba bersiap-siap pulang ke rumah. Seperti biasa Ia selalu menggunakan angkutan umum pulang pergi ke sekolah.
Saat ia melangkah keluar gerbang, betapa terkejutnya sudah ada Fattah di sana. Berpakaian santai gayanya saat sedang tidak bekerja. Lelaki itu duduk di atas motor memangku kedua tangannya di atas stang. Dhiba heran, Fattah tak tampak lelah di wajahnya. Bukankah jika ia baru saja melakukan perjalanan jauh, akan terlihat suntuk. Tapi dia tidak. Jangan-jangan…..
“Loh, kok sudah di sini? katanya besok ketemuan?” Tanya Dhiba meski ia sejujurnya senang Fattah datang saat ini juga. Dasar cewek beda di mulut lain di hati. Tengsin ah..
“Surprise Yang, hahaha… aku sudah dari semalam sampai rumah.hehe..” Jawab Fattah cengengesan menampilkan deretan giginya yang putih. tampan.
“iih.. kaget tauuk” celtuk Dhiba manja.
“tapi kamu seneng kan? Yeay berhasil dong surprise aku..hehe” tebak Fattah sumringah melihat Dhiba sepertinya senang ia datang.
“Yuk, buruan naik.” Ajak Fattah.
“Mau kemana?” Tanya Dhiba heran.
“Ke rumahku, kenalan sama ibu, oke.” Jawab Fattah datar.
‘Deg’
Bingung Dhiba tak mampu menjawab ajakan Fattah. Ia tak mungkin menolak, tapi sebenarnya tak siap juga bila bertemu orang tua Fattah. Apalagi dirinya hanya anak SMA saat ini. mau ngapain coba? tanyanya dalam hati.
“Yuk, Yang. Biar ga kesorean kamu pulang.” Ajak Fattah lagi, membuyarkan lamunan Dhiba.
Akhirnya, Dhiba mengalah mengikuti ajakan Fattah untuk pergi ke rumahnya dan berkenalan dengan ibu.
‘Duhaiii… Dhiba takut.. takut ibu Fattah ga suka sama Dhiba.. harus gimana ya nanti di sana’ sepanjang jalan hanya itu yang dipikirkan oleh Dhiba.
*****
“Masak apa bu?” Tanya bapak sepulang dari tempatnya bekerja.
“Sup kerang pak, kesukaan Fattah” jawab ibu sambil tetap fokus pada bahan masakannya yang siap dieksekusi.
“hmm.. yang anak kesayangannya pulang, semangat masak.” Ledek bapak pada ibu.
“Setiap hari juga ibu masak kan pak, sekali-kali fokus sama Fattah ga salah kan? Jawab ibu sedikit memelas.
“hehehe.. bercanda buu, bapak mau istirahat dulu ya.” jelas bapak sembari berjalan ke kamar.
*****
Dhiba hanya mematung saat Fattah memarkir motornya di halaman rumah. Sejuk. Rumah dengan halaman yang cukup luas ditata dengan sangat apik. Deretan pot - pot bunga dan tanaman hias lainnya menambah suasana asri. Belum lagi dua kolam yang terlihat seperti kolam untuk ternak ikan, baru kali ini Dhiba melihat ada rumah dengan tambak ikan sekaligus di halaman. Bayangannya sudah mengular menikmati sore dengan memancing ikan segar di sana.
*****
"assalamu'alaikum"
Fattah masuk ke dalam rumahnya terlebih dulu meninggalkan Dhiba yang tengah asyik termenung.
"wa'alaikumsalam, makan bang, sudah ibu siapkan nih makanan kesukaan abang." sahut ibu seraya mempersiapkan masakan yang tadi ke dalam wadah besar.
"Bu…" Fattah terdiam
"kenapa? tanya Ibu.
" ada tamu di luar, Fattah yang ajak dia kemari." jawab Fattah.
"siapa?" tanya ibu mengernyitkan dahinya heran.
Fattah menghampiri Dhiba di luar dan bersama-sama masuk kedalam rumah.
Terlihat canggung Dhiba mengikuti langkah Fattah sembari sesekali tertunduk.
"kenalin Bu, ini Dhiba." terang Fattah
"assalamu'alaikum Bu." sapa Dhiba sambil menyalami ibu Fattah.
"wa'alaikumsalam.."
"oh,iya Nak silahkan duduk" jawab ibu lembut meski masih bingung.
"tinggal di mana Nak?"
"Gegerkalong Bu.." jawab Dhiba sembari mengatur nafas agar tak terlihat gugup. Ibunya Fattah cantik banget, pantes anaknya putih, ganteng, gumamnya dalam hati.
"ayuk atuh sini ikut makan siang bareng ya" ajak ibu sambil berjalan pelan menuju ruang makan.
"Fattah, ajak Dhiba makan." jelas ibu lagi.
"Ya,bu.. ayok Yang" ajak Fattah sambil memegang tangan Dhiba menuju ruang makan.
Ruang makan ini sangat hangat dan kekeluargaan. Tak ada kursi maupun meja tapi lesehan di lantai. Semua hidangan telah tersaji dengan tatanan yang sangat rapi. Meski dengan lauk yang sederhana, tak mengurangi selera makan keluarga ini yang hanyut dalam kebersamaan.
*****
"Bu, Fattah mau anter Dhiba pulang ya.." ijin Fattah pada ibunya.
"Iya sudah hati-hati di jalan." jawab ibu memberi ijinnya
Akhirnya Dhiba pun berpamitan pada Ibu Fattah dan tak sengaja bertemu adik Fattah saat akan keluar gerbang.
"Dek, salim dulu sama kak Dhiba main lewat aja" Sahut ibu Fattah.
"Halo kak" sapa Tio.
"iya" jawab Dhiba kikuk baru kali ini ada yang memanggil dirinya 'kakak'.
"Jalan Bu, assalamu'alaikum." pamit Fattah sambil berlalu diiringi anggukan kepala Dhiba tanda pamit juga.
"wa'alaikumsalam." jawab ibu sambil melangkah ke dalam rumah.
*****
Memadu Rindu
Ternyata Fattah mengajak Dhiba mampir ke sebuah daerah wisata yang lumayan sepi karena bukan hari libur. Tapi cukup ramai didatangi oleh penduduk sekitar tempat wisata. Fattah bilang ada yang ingin dibicarakan sebentar saja bersama Dhiba. Setelah sampai di sebuah tempat duduk di dalam area tempat wisata tersebut, tiba-tiba Fattah langsung memeluk Dhiba.
"kangen Yang" katanya lirih
"kamu ga kangen abang apa?" tanyanya.
"ya kangen lah.." jawab Dhiba tanpa terasa air matanya pun luruh.
"ssstt.. jangan nangis Yang, ntar dikira orang aku ngapain2 kamu lagi." kata Fattah sambil mengusap air mata Dhiba.
"sebentar lagi kuliah abang selesai, tapi abang masih bingung mau cari kerja dimana. Menurutmu jika abang kerja di luar kota lagi ga apa?" tanya Fattah serius.
"aku juga masih sekolah, mau nerusin kuliah, jadi tentang pekerjaan abang ya silahkan dimana yang terbaik menurut abang aja". Jawab Dhiba tanpa disadari entah sejak kapan ia memanggil Fattah dengan sebutan abang. bukan kamu lagi.
" yakin?" tanya Fattah lagi meyakinkan Dhiba.
Dhiba hanya mengangguk, dalam hati ia sangat ingin Fattah berada di Bandung saja, tapi dengan tidak mendukungnya justru akan menghambat karir dan masa depannya, ditambah lagi ia adalah anak pertama kebanggaan dan harapan keluarga pastinya.
"ayok pulang sudah sore, abang cuma mau ngomong tadi aja.. makasih ya Yang abang lega dengar jawaban dari Dhiba, cup..." tutur Fattah sembari mengecup punggung tangan Dhiba.
Fattah dan Dhiba kemudian berjalan beriringan menuju tempat motor mereka terparkir. Selama perjalanan Dhiba terlihat lebih banyak diam, membuat Fattah berpikir keras untuk membuatnya tersenyum. Ia tahu, meskipun jawaban Dhiba setuju jika ia bekerja di luar kota namun tentu Dhiba sangat menginginkan dirinya bekerja di Bandung saja.
"Yang ayok balapan jalan!" ajak Fattah
"heh?" bingung Dhiba menanggapi ajakan fattah.
"iya, kita balapan jalan sambil injek-ijek tuh biji pinus yang berserakan di tanah, yuk ah!" ajak Fattah sambil memperagakan caranya pada Dhiba.
Dhiba tersenyum melihat tingkah Fattah dan tak lama ia pun segera mengikuti langkah Fattah. Sesekali mereka tertawa terbahak ketika tanpabsengaja menginjak biji pinus yang sama. Karena salah satu dari kaki mereka pasti akan terinjak, entah kaki Fattah terinjak kaki Dhiba atau sebaliknya. Fattah lebih sering meringis dan protes karena Dhiba pakai sepatu sedangkan dirinya menggenakan sendal jepit, tentu rasanya lebih sakit saat terinjak sepatu. Tanpa terasa sepanjang jalan menuju parkiran motor mereka bermain injak biji pinus sampai perut mereka lelah karena tertawa. Tapi Dhiba senang, tak ada lagi raut sendu seperti sebelumnya.
saat itu senja hendak terbenam
melukiskan rindu yang tak terduga
angan masa depan
yang tak pernah siapapun ketahui
sebuah senyuman tersungging
melepas hari tanpa peduli
yang akan terjadi esoknya
berharap masih sama
dengan asa yang juga sama
dia yang sama
*****
bersambung...
