PART 1
Persimpangan Kalimalang
"Lagi nunggu 56 mbak?"
Sebuah suara membuyarkan lamunanku.
Kabarnya hari ini angkutan 56 sejenis elf yang biasa menjadi transportasi saat pulang pergi untuk kuliah masih melakukan demo. Para sopir mogok massal tanpa tahu pasti apa penyebabnya. Sedari tadi aku hanya berharap tiba-tiba saja ada satu atau dua angkutan 56 yang memutuskan untuk menyelesaikan mogoknya melihat penumpukan penumpang di pangkalan. Selama ini hanya angkutan 56 sebagai transportasi pulang pergi ke kampus meski sudah lebih dari satu tahun berada di Jakarta.
Pada hari sebelumnya aku bertemu seorang perempuan sebaya. Ia menghampiri lalu menyapaku dan bertanya akan ke arah mana. Aku jawab ke arah Nagrak dan ia pun menjawab sama. Lalu kami memilih untuk naik angkot biru tujuan pasar rebo kemudian berganti angkot lagi ke arah cibubur junction. Setelah kami berkenalan, ternyata gadis itu berkuliah di universitas yang sama denganku, bedanya ia jurusan pendidikan agama Islam sedangkan aku pendidikan anak. Sayangnya, pertemuan kami kemarin hanya sebatas ngobrol di angkot dan lupa untuk saling bertukar nomor ponsel. Praktis hari ini aku kebingungan akan naik apa untuk pulang, karena jujur aku benar-benar lupa kemarin naik angkutan apa menuju pasar rebo, ditambah lagi keberanianku tak cukup untuk menuju kesana sendirian.
“Maaf mau ke arah mana? nunggu 56 juga?” tanyanya lagi.
“Eh, iya,” jawabku singkat.
“Masih demo ya 56?” tanyanya padaku.
“Iya mungkin,” jawabku sekenanya karen jujur aku tak bisa berkonsentrasi memikirkan harus naik apa pulang ke rumah sedangkan hari semakin sore.
“Turun dimana?” tanyanya lagi.
“Nagrak,” jawabku.
“Loh sama, dari Nagrak ke mana arahnya?” tanyanya lagi.
“Cikeas,” tukasku.
“Kok sama sih, yuk kita bareng aja!” ajaknya padaku.
“Naik apa?’ spontan aku bertanya.
“Apa ya? apa mau naik angkot yang ke arah kampung rambutan?” tanyanya lagi meminta pendapatku.
“Tapi aku nggak tahu loh naik apa dari sini ke sana,” jelasku.
Dia nampak berpikir sembari aku terus berharap akan ada keajaiban tiba-tiba ada 56 yang datang ke pangkalan. Beberapa kali ada mobil pribadi atau biasa disebut ‘omprengan’ berdatangan, tapi tujuan mereka bogor kota, otomatis nggak akan keluar tol arah rumahku. hingga akhirnya ada sejenis kopaja yang memanfaatkan momen dengan menawarkan trayek seperti 56. Ketika aku sudah naik itu tiba-tiba angkutan 56 berbondong-bondong berjalan menghampiri pangkalan. Aku pun serta merta langsung turun dari kopaja tersebut dan beralih berebut 56 dengan penumpang lainnya. Huaaaaaa…. rasanya lega sekali berada di angkutan ini. ‘Alhamdulillah ya Allah’, bisikku dalam hati. Tanpa aku sadari, pria yang sedari tadi menanyaiku ada juga di dalam angkutan ini. Aku tak terlalu memperhatikan karena sibuk dengan diriku sendiri.
Mobil pun melaju memasuki tol yang panjang. Saatnya tidur, begitulah aku ketika berada di angkutan ini. Sebagian besar penumpang memanfaatkan waktu selama mobil berada di tol dengan tidur. Biasanya aku bawa cemilan yang akan aku santap ketika berada di tol. Tapi hari ini aku tidak bawa, jadi tidur adalah pilihan tepat.
Tak selang berapa lama sampai juga di perempatan Nagrak, aku dan pria tadi turun bergantian. Kami sama-sama menyebrang jalan ke arah cikeas dan berganti angkot arah Citeureup. Karena tidak begitu ramai, angkot ini pun memilih ‘ngetem’ menunggu beberapa penumpang lainnya. Pria tadi tiba-tiba mengulurkan ponselnya padaku. “Eh, daritadi kita belum kenalan, nomor kamu berapa?” ia bertanya sembari memberikan handphonenya padaku. Entah kenapa aku menerima begitu saja dan mengetik nomorku di HP nya. “nih, coba misscall,” kataku. Kemudian Ia langsung melakukannya dan terhubung. “Save ya, itu nomorku,” begitu katanya. “Namaku Ray, kamu?” tanyanya. “Reina,” jawabku. “kuliah dimana?” tanyanya lagi. “UNJ,” jawabku. “Loh sam dong, aku anak FE, kamu?” Ia balik bertanya. “Aku FKIP”. jawabku. “Sorry aku duluan ya dah,” Ia berlalu sembari melambaikan tangan padaku. Aku hanya mengangguk mengulas senyum, ‘oh, ternyata dia tinggal di daerah Wanaherang’ kataku dalam hati.
bersambung….
